BJTM Pertahankan Target Rasio NIM Hingga Akhir Tahun

Target ini dipertahankan karena Bank Jatim optimis layanan pengajuan kredit melalui sistem online atau formulir elektronik dapat meningkatkan penyaluran pembiayaan di Semester II/2019.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 01 September 2019  |  16:05 WIB
BJTM Pertahankan Target Rasio NIM Hingga Akhir Tahun
Kegiatan di salah satu kantor cabang Bank Jatim. - Antara/Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (Bank Jatim) tetap mempertahankan target pertumbuhan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) sebesar 6,4 persen hingga akhir tahun.

Direktur Utama Bank jatim (BJTM) Hadi Santoso mengatakan, target ini dipertahankan karena Bank Jatim optimis layanan pengajuan kredit melalui sistem online atau formulir elektronik dapat meningkatkan penyaluran pembiayaan di Semester II/2019.

“Ditambah dengan penurunan BI 7Day rate beberapa waktu lalu tentu memberikan kelonggaran serta NIM akan terjaga. Peningkatan NIM BJTM diikuti perbaikan kualitas kredit yang tercermin pada turunnya rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL),” kata Hadi kepada Bisnis, Jumat (30/8/2019).

Rasio NIM dapat terjaga jika sebuah bank mampu mengelola dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit secara optimal. Sederhananya, semakin tinggi selisih bunga pembiayaan dibanding bunga pendanaan bagi kreditur, maka rasio NIM akan bertambah.

Pada Semester I/2019, rasio NIM Bank Jatim turun 11 basis poin (bps) menjadi 6,30 persen. Penurunan terjadi salah satunya karena komposisi dana murah (current account and savings account/CASA) menurun 85 bps menjadi 69,62 persen.

Penurunan komposisi CASA bisa dilihat dari pembukuan kenaikan pengelolaan DPK emiten berkode BJTM ini per akhir Juni. Bank Jatim membukukan kenaikan pengelolaan DPK sebesar 17 persen menjadi Rp57,93 triliun, yang ditopang terutama oleh pertumbuhan deposito sebesar 20,38 persen secara yoy.

Sementara itu, pada periode yang sama penyaluran kredit Bank Jatim tumbuh secara year-on-year (yoy) sebesar 8,25 persen menjadi Rp34,77 triliun.

Menurut Hadi, kedepannya Bank Jatim akan memperbaiki struktur biaya dana atau cost of fund sehingga komposisi CASA kembali meningkat.

Jika melihat data Distribusi Simpanan Bank Umum per Juli 2019, pertumbuhan jumlah DPK yang dikelola bank daerah seperti BJTM lebih tinggi dibanding dana kelolaan pada bank pemerintah, swasta, campuran dan asing. Pertumbuhan DPK di bank daerah mencapai 12,45 persen secara yoy.

Melihat tren positif pengumpulan DPK oleh bank daerah, menjadi wajar jika akhirnya Bank Jatim mematok target pemupukan dana murah yang lebih besar kedepannya. Hadi mengatakan, ada beberapa strategi Bank Jatim guna mencapai target kenaikan komposisi dana murah.

Pertama, perseroan memberikan kebijakan khusus kepada Cabang penghasil DPK besar sehingga mampu bersaing dengan bank lainnya. Dia menyebut salah satu cabang penghasil DPK terbesar ada di DKI Jakarta.

Kedua, Bank Jatim aktif melakukan berbagai kegiatan promosi tematik. Ketiga, penambahan fitur e-channel Bank Jatim. Keempat, BJTM melakukan kerja sama dengan penyelenggara switching yang mampu memberikan benefit kepada Bank Jatim.

Kelima, Bank Jatim fokus meningkatkan pengelolaan dana hunter terutama dana murah. Perseroan juga hendak meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak khususnya perusahaan tekfin dan e-commerce.

“Contoh ada kerja sama dengan PT Asabri terkait pembayaran pensiunan, kerja sama dengan kementerian sosial terkait penyaluran Jaminan Sosial Lanjut Usia, kerjasama dengan Grab terkait layanan jasa keuangan,” katanya.

Ketujuh, Bank Jatim bekerjasama menggunakan sistem jaringan elektronik secara Host to Host terkait data billing system dalam layanan pembayaran pajak daerah, penerimaan Negara bukan pajak, sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan.Terakhir, sejumlah promo diberikan bagi nasabah prioritas Bank Jatim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank jatim, bjtm

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top