BKF: Pengelolaan Dana Pensiun Belum Optimal

Meski aset program pensiun nasinal meningkat, dana pensiun masih belum berperan besar dalam pengembangan sektor keuangan.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 12 Oktober 2019  |  21:35 WIB
BKF: Pengelolaan Dana Pensiun Belum Optimal
Aktivitas layanan di salah satu kantor dana pensiun lembaga keuangan (DPLK), di Jakarta, Rabu (2/1/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyoroti pengelolaan dana pensiun di Indonesia yang masih belum optimal.

Secara umum, total dana kelolaan program pensiun saat ini relatif tinggi. Per Desember 2018, total dana pensiun tercatat mencapai Rp850,78 triliun dengan BPJS Ketenagakerjaan mendominasi sebesar Rp319,33 triliun.

Meski aset program pensiun nasinal meningkat, dana pensiun masih belum berperan besar dalam pengembangan sektor keuangan.

Per Desember 2018, total dana pensiun hanya sekitar 5,63% dari PDB. Angka tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan negara lain. Hal ini mengindikasikan dana pensiun di Indonesia masih belum dikelola secara optimal.

Dalam 'Tinjauan Ekonomi, Keuangan, dan Fiskal Edisi III/2019' yang diterbitkan oleh BKF, disebutkan bahwa sebagian besar aset dana pensiun di Indonesia diinvestasikan pada instrumen berjangka pendek.

Hal ini tidak sesuai dengan karakteristik program pensiun yang memiliki liabilitas jangka panjang sehingga menimbulkan asset-liability mismatch. Akibatnya, aset dana pensiun yang ada tidak dapat dikelola secara optimal.

Penyebab timbulnya asset-liability mismatch antara lain, pertama, adanya pengukuran kinerja manajemen pengelolaan dana yang dilakukan hanya berdasarkan kinerja satu tahun.

Hal tersebut membuat pengelola dana pensiun cenderung menempatkan aset pada instrumen investasi bertenor pendek dengan tingkat volatilitas dan imbal yang kecil.

"Kondisi ini berbeda dengan praktik di beberapa negara lain seperti Malaysia, Australia, dan Kanada di mana pengukuran kinerja tahunan manajemen dilakukan berdasarkan rata-rata kinerja 3 hingga 5 tahun terakhir," ujar dokumen yang dikutip Bisnis pada Sabtu (12/10/2019).

Penyebab kedua ialah penarikan dana pensiun dilakukan relatif dini sebelum masuknya usia pensiun, terutama pada program jaminan hari tua (JHT) BPJS Kesehatan.

Program dengan aset kelolaan sebesar Rp278,9 triliun per Desember 2018 tersebut tidak dapat tumbuh optimal akibat penarikan tersebut dan karena memang secara aturan dana JHT dapat ditarik kapan saja, termasuk sesaat setelah berhenti bekerja.

Ketiga, adanya Peraturan OJK yang mewajibkan industri keuangan non-bank utnuk mengalokasikan aset kepada Surat Berharga Negara (SBN) dalam batas waktu tertentu tanpa mempertimbangkan karakter dan durasi liabilitas program juga berakibat pada berkurangnya ruang bagi surat berharga korporasi dan instrumen investasi lain untuk berkembang.

Keempat atau terakhir, literasi investasi di masyarakat baik peserta, pengelola, dan regulator masih relatif rendah.

BKF menerangkan bahwa prinsip utama dari penentuang strategi investasi atas aset program pensium sangat ditentukan oleh profil liabilitasnya.

Prinsip ini mash belum dipahami secara benar oleh masyarakat. Masyarakat pun hingga saat ini masih familiar kepada instrumen lama yakni tabungan, deposito, dan SBN. tetapi kurang memahami saham dan reksa dana.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
badan kebijakan fiskal, dana pensiun

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top