Penurunan GWM Bakal Topang Laba Bersih Perbankan

Bahana Sekuritas menyebutkan pelonggaran giro wajib minimum (GWM) yang dilakukan pada November dan yang akan berlaku pada Januari 2020, menambah likuiditas di system perbankan sekitar Rp26 triliun.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 01 Desember 2019  |  13:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Bahana Sekuritas menyebutkan pelonggaran giro wajib minimum (GWM) yang dilakukan pada November dan yang akan berlaku pada Januari 2020, menambah likuiditas di system perbankan sekitar Rp26 triliun.

Menurut mereka, meski tidak terlalu besar, namun pelonggaran ini menjadi sinyal kepada pasar bahwa BI sedang menempuh kebijakan akomodatif yang masih akan berlanjut hingga tahun depan, karena rasio kredit terhadap simpanan atau yang lebih dikenal loan to deposit ratio (LDR) masih berada dikisaran 97% hingga September 2019.

‘’Penurunan GWM tidak serta merta mendorong kemampuan bank untuk menyalurkan kredit, karena tambahannya bagi pertumbuhan kredit diperkirakan sekitar 0,5%, sehingga dampaknya bagi penurunan LDR hanya sekitar 40 bps, namun bagi sebagian bank besar pelonggaran ini akan berdampak positif bagi peningkatan laba bersih yang diperkirakan melebihi 1%,’’ terang Analis Bahana Sekuritas Prasetya Christy Gunadi dalam keterangan persnya.

Hingga akhir September 2019, kredit perbankan tumbuh sebesar 7,89% dibanding periode yang sama tahun lalu. Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) ini memperkirakan hingga akhir tahun ini kredit bank akan tumbuh dikisaran 9% dan akan tumbuh dikisaran 10% pada 2020, dengan telah mempertimbangkan pengaruh dari pemotongan suku bunga acuan dan pelonggaran GWM.

‘’Pemotongan GWM akan memberi ruang lebih besar bagi perbankan untuk membukukan pendapatan dari bunga kredit daripada bunga yang diperoleh dari penempatan dana di BI melalui GWM,’’ ujar Prasetya.

Bahana merekomendasikan beli untuk saham Bank Rakyat Indonesia(BBRI) dengan target harga Rp 5.300/lembar saham, karena sebagai bank yang fokus membiayai usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) mengenakan bunga kredit yang lebih tinggi dibanding bank besar lainnya seperti Bank Mandiri, Bank Central Asia dan Bank Negara Indonesia (BNI), dengan rasio kredit bermasalah yang terjaga. Dengan pelonggaran GWM, laba bersih BBRI diperkirakan akan naik sekitar 1,07% pada 2020.

Rekomendasi beli juga diberikan untuk Bank Mandiri, dengan target harga Rp 9.000/lembar saham, karena bank yang memiliki kode saham BMRI ini fokus untuk menjaga pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) dan memperbaiki rasio kredit bermasalah. Pelonggaran GWM diperkirakan akan membantu kenaikan laba bersih Bank Mandiri sebesar 1,04% pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
giro wajib minimum

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top