BPJS Kesehatan Defisit, Surplus DJS untuk Bayar Selisih Kenaikan Iuran Kelas III

Rapat dengar pendapat antara Komisi IX DPR dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyepakati pemanfaatan surplus Dana Jaminan Sosial (DJS) untuk membayar selisih kenaikan iuran peserta pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja kelas III BPJS Kesehatan.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 13 Desember 2019  |  08:43 WIB
BPJS Kesehatan Defisit, Surplus DJS untuk Bayar Selisih Kenaikan Iuran Kelas III
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto saat rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/12/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Rapat dengar pendapat antara Komisi IX DPR dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menyepakati pemanfaatan surplus Dana Jaminan Sosial (DJS) untuk membayar selisih kenaikan iuran peserta pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja kelas III BPJS Kesehatan.

"Komisi IX DPR mendukung langkah Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, dan Dewan Jaminan Sosial Nasional untuk memanfaatkan surplus DJS sebagai alternatif solusi," kata Ketua Komisi IX Felly Estelita Runtuwene saat membacakan kesimpulan rapat di Jakarta, Kamis (12/12/2019) malam. 

Surplus DJS akan dimanfaatkan untuk membayar selisih kenaikan iuran peserta pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja kelas III yang berjumlah 19.961.569 jiwa.

Dalam rapat tersebut, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dan Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris menjamin kesepakatan itu dapat dilaksanakan per 1 Januari 2020 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

"Kami setuju dan kami akan mengomunikasikan dengan Menteri Keuangan. Hakekatnya kami bukan regulator, tetapi kami memberikan pilihan terbaik kepada Kementerian Keuangan. Dengan Menteri Keuangan sifatnya hanya laporan, jadi kami rasa tidak akan ada masalah," kata Fachmi.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menawarkan tiga alternatif terkait permasalahan kenaikan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk menutupi defisit BPJS Kesehatan per 1 Januari 2020.

Dalam berbagai rapat, Komisi IX berkali-kali meminta agar iuran peserta pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja kelas III tidak dinaikkan karena akan memberatkan.

Alternatif pertama yang ditawarkan Terawan adalah mengusulkan subsidi pemerintah atas selisih kenaikan iuran JKN pada peserta pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja kelas III. Namun, alternatif tersebut masih perlu menunggu kepastian jawaban dari menteri keuangan dan perlu dituangkan dalam keputusan presiden.

Alternatif kedua adalah memanfaatkan surplus atas klaim rasio peserta penerima bantuan iuran yang diproyeksikan akan didapatkan akibat karena ada kenaikan iuran. Alternatif kedua inilah yang kemudian disepakati bersama Komisi IX.

Sedangkan alternatif ketiga adalah memasukkan 19.961.569 jiwa peserta pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja untuk menggantikan penerima bantuan iuran yang akan dinonaktifkan oleh Kementerian Sosial. 


 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dpr, bpjs kesehatan, dokter terawan

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top