Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Asuransi Masih Berkontribusi Besar pada Defisit Neraca Pembayaran

Rencana peningkatan ketentuan modal minimal perusahaan asuransi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan langkah yang baik untuk menekan defisit. Namun, hal tersebut harus dilakukan secara bertahap.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 16 Februari 2020  |  20:11 WIB
Hotbonar Sinaga - Istimewa
Hotbonar Sinaga - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Kapasitas modal perusahaan asuransi dinilai perlu ditingkatkan untuk memperbesar kemampuan retensi agar menekan pelarian devisa reasuransi ke luar negeri. Asuransi dan dana pensiuan masih berkontribusi besar terhadap defisit neraca pembayaran.  

Pengamat asuransi dan Mantan Direktur Utama PT Jamsostek Hotbonar Sinaga menilai bahwa kapasitas modal menjadi faktor utama masih terjadinya defisit neraca pembayaran. Belum tingginya kapasitas modal membuat risiko yang diproteksi masih terbatas.

"Yang jelas untuk menekan defisit, ekuitas asuransi khususnya asuransi umum harus ditambah secara bertahap," ujar Hotbonar kepada Bisnis, Minggu (16/2/2020).

Dia menjelaskan bahwa industri asuransi perlu memperbesar retensinya untuk menekan peningkatan reasuransi ke luar negeri. Menurutnya, larinya devisa reasuransi ke luar negeri menjadi penyebab neraca masih defisit hingga saat ini.

Menurut Hotbonar, rencana peningkatan ketentuan modal minimal perusahaan asuransi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan langkah yang baik untuk menekan defisit. Namun, hal tersebut harus dilakukan secara bertahap.

"Selama ini neraca pembayaran sektor asuransi masih defisit dan upaya meningkatkan modal setor diharapkan akan memperkecil defisit, bertahap tetapi pasti. Itu harus disesuaikan dengan kemampuan perusahaan asuransi, terutama yang lokal untuk setor tambahan modal," ujar Hotbonar.

Dia menjelaskan bahwa dalam kondisi perekonomian seperti saat ini, peningkatan syarat modal minimal perlu dilakukan secara bertahap. Menurutnya, perlu masa transisi sebelum kebijakan diimplementasikan sehingga perusahaan lokal dapat memenuhi peningkatan modal.

Berdasarkan data Bank Indonesia, neraca pembayaran jasa asuransi dan dana pensiun pada 2019 tercatat defisit US$709 juta. Catatan impor jasa asuransi dan pembiayaan senilai US$875 juta belum dapat diimbangi oleh ekspor jasa tersebut senilai US$167 juta.

Defisit neraca pembayaran 2019 tercatat meningkat dibandingkan dengan 2018 sebesar US$567 juta. Padahal, defisit terus mengalami penurunan selama lima tahun terakhir, dari 2015 yang masih sebesar US$888 juta hingga titik terendah pada 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi neraca pembayaran
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top