Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Alasan Kenapa Bank Indonesia Perlu Pangkas Suku Bunga

Penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat efektif untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah penyebaran virus Corona yang belum mereda sampai saat ini.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 20 Februari 2020  |  08:47 WIB
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2 - 2020).
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2 - 2020).

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku pasar dan ekonom Tanah Air tengah menanti paket stimulus moneter yang akan diluncurkan Bank Indonesia (BI) bulan ini.

Pasalnya, risiko perlambatan investasi akibat penyebaran virus corona semakin memburamkan prospek ekonomi RI.

BI dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Februari 2020 pada Rabu (19/2). Gubernur Perry Warjiyo bakal mengumumkan BI 7 - Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) pada Kamis (20/20).

Dari 31 ekonom yang disurvey Bloomberg, Rabu (19/2), sebanyak 19 ekonom memperkirakan BI bakal memangkas suku bunga hingga 25 basis poin (bps) ke level 4,75%. Sementara itu, 12 ekonom menilai BI akan menahan suku bunga di angka 5%.

Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan penurunan suku bunga hingga 25 basis poin merupakan langkah antisipatif yang dilakukan BI lantaran perekonomian bergerak lambat pada kuartal I/2020.

"Penurunan suku bunga acuan diharapkan dapat efektif untuk menjaga daya beli masyarakat. Apalagi, penyebaran virus Corona belum mereda sampai saat ini. Harus ada sinergi kebijakan fiskal dan moneter," katanya ketika dihubungi, Rabu (19/2/2020).

Menurutnya, perlambatan laju ekonomi akibat wabah virus Covid-19 sudah mulai terlihat di beberapa sektor, misalnya pariwisata dan perdagangan. Apalagi, virus Corona yang bermula di Wuhan, China kini sudah merambah ke berbagai negara, termasuk Singapura.

Hal tersebut, lanjutnya, akan mempengaruhi kinerja ekspor dan impor Indonesia. Lesunya aktivitas ekonomi di China sejak libur Hari Raya Imlek pada akhir Januari diprediksi akan membuat permintaan ekspor ikut melorot. Di sisi lain, tren penurunan impor barang modal dan bahan baku juga patut diwaspadai karena akan berpengaruh pada proses dalam negeri.

Dia melanjutkan pemerintah tidak perlu khawatir minat investor global di pasar keuangan bakal turun akibat pemangkasan suku bunga.

Menurutnya, profil Indonesia di mata lembaga pemerintah utang saat ini cukup baik.

Terbukti, pemeringkat Utang Jepang (Japan Credit Rating/JCR) menaikkan level dari BBB ke BBB+. Moody's juga mempertahankan rating utang Indonesia di level Baa2 atau setara dengan BBB, meskipun saat ini dunia tengah gonjang-ganjing karena wabah virus Corona.

"Rating kita makin baik. Minat investor asing terhadap porto folio instrumen keuangan juga cukup bagus. Memang ada perlambatan investasi di sektor riil. Kita menunggu optimalisasi lewat RUU Omnibus Law," jelasnya.

Senada dengan David, Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sabijantoro memperkirakan BI akan menurunkan suku bunganya sebesar 25-bps menjadi 4,75%.

"Kami melihat bank sentral segera bertindak untuk menghadapi kemungkinan perlambatan investasi," ujarnya.

Terkait kebijakan fiskal, dia berharap pemerintah segera menggulirkan insentif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Beberapa langkah yang dapat dilaksanakan, antara lain pemotongan harga tiket pesawat untuk merangsang pariwisata dalam negeri serta penyesuaian nominal penghasilan tidak kena pajak (PTKP).

"Perlu juga rangsangan fiskal untuk sektor-sektor dengan efek pengganda [multiplier effects]tinggi terhadap pertumbuhan, seperti properti dan perumahan," ujar Satria.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia virus corona
Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top