Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menangkal “Virus Panik” di Tengah Pandemi Corona

Pandemi virus corona telah menekan pasar modal di dunia, termasuk Indonesia. Kondisi pasar yang terus terkoreksi membuat investor cenderung hati-hati dalam menempatkan dananya.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 07 April 2020  |  13:00 WIB
Tips Keuangan. - Bisnis.com
Tips Keuangan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Selama sebulan terakhir, investor terus dibayangi oleh rasa was-was melihat pergerakan pasar finansial. Virus corona membuat pasar modal di Indonesia merah.

Di tengah pandemi virus Corona (COVID-19), volatilitas di pasar modal sangat tinggi. Sebab investor khawatir, bingung, dan panik tidak tahu apa yang harus dilakukan pada portofolio investasinya.

Freddy Tedja, Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengungkapkan bahwa dibutuhkan strategi memanajemen kepanikan dan risiko terhadap investasi. Berikut tips yang disampaikan Freddy dalam keterangan resmi, Selasa (7/4/2020):

1. Investasi memiliki risiko, ketahui profil risikomu

Semua produk investasi tentunya memiliki risiko, walau sekecil apa pun. Profil risiko akan menentukan batas risiko atau tingkat kesiapan seorang investor dalam menanggung tingkat volatilitas, baik penurunan ataupun kenaikan di berbagai instrumen investasi yang dimilikinya.

Dengan mengetahui profil risiko, maka investor bisa menentukan kelas aset yang paling sesuai.  Reksa dana merupakan instrumen investasi yang cocok bagi banyak kalangan karena memiliki banyak ragam dengan tingkat risiko yang berbeda-beda, sehingga dapat disesuaikan dengan beragam profil dan kebutuhan investor.

Investor yang tidak suka dengan volatilitas berlebihan dan merasa cukup nyaman dengan potensi imbal hasil investasi yang tidak terlalu tinggi biasanya akan jatuh pada profil risiko konservatif.  Profil risiko konservatif bisa juga terjadi karena kebutuhan investasi jangka pendek.

Sebaliknya, investor yang tidak takut dengan volatilitas dan ingin mengejar potensi imbal hasil yang tinggi, karena jangka waktu investasinya panjang dan biasanya akan jatuh pada profil agresif.  Jika investor cenderung berada ‘di tengah-tengah’, profil risikonya adalah moderat.

Secara umum, reksa dana pasar uang cocok untuk profil risiko konservatif, reksa dana pendapatan tetap untuk profil risiko moderat, dan reksa dana saham untuk profil risiko agresif.  Namun tentu saja bauran dari tingkat keberanian investor menghadapi volatilitas, target imbal hasil yang diinginkan dan jangka waktu investasi akan sangat beragam.

Bisa saja investor dengan profil risiko konservatif tetap mengalokasikan sedikit dananya di reksa dana saham, atau investor berprofil risiko agresif punya sedikit kebutuhan jangka pendek dapat dipenuhi oleh reksa dana pasar uang.

Profil risiko dan kebutuhan investasi setiap orang berbeda, dan menentukan portofolio investasi hanya dengan ikut-ikutan pilihan kebanyakan orang lain adalah tidak tepat. Jadi, di saat orang lain panik saat ini, mungkin saja sebenarnya kita tidak perlu ikut-ikutan panik!  Ingat, kebutuhan investasi dan portofolio investasi anda tidak sama dengan orang lain.

2. Di tengah pandemi COVID-19, dimana sebaiknya saya simpan uang saya?

Pandemi telah menekan pasar finansial di hampir seluruh kawasan dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kondisi pasar yang terus terkoreksi membuat investor cenderung hati-hati dalam menempatkan dananya dan memilih untuk memegang tunai. Apakah tepat menyimpan porsi tunai di kondisi seperti saat ini?

Memilih untuk memegang dana tunai memang membuat kita bisa dengan mudah menggunakannya seandainya ada kebutuhan mendadak saat kita sedang #dirumahaja. Namun perlu diingat, nilai uang kita tidak akan berkembang, dan justru tergerus inflasi. 

Dalam kondisi seperti ini, menempatkan uang kita di reksa dana yang dikelola oleh manajer investasi yang memiliki pengetahuan dan kemampuan pengelolaan investasi dapat menjadi pilihan di tengah kebingungan kita. Dan yang sama pentingnya juga, sesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan investasi kita.

Sebagai penutup,  jika berkaca dari kondisi krisis dan kepanikan pasar di masa lalu seperti pada krisis Asia 1998 dan krisis global 2008, terlihat bahwa koreksi tajam yang terjadi di pasar finansial cenderung diikuti dengan kenaikan tajam setelahnya, dalam jangka menengah-panjang.

Jadi,  tetaplah berinvestasi sesuai profil risiko untuk mencapai tujuan investasi jangka panjang. Untuk kenyamanan, carilah manajer investasi yang memiliki platform investasi digital sehingga kita dapat berinvestasi #dirumahaja

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tips keuangan Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top