Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diguncang Covid-19, Bank-Bank Eropa Hadapi Tantangan Kredit Macet

HSBC Holdings Plc dan Banco Santander SA mengalami pukulan terbesar di antara bank-bank Eropa lainnya yang berjuang untuk menahan dampak virus corona pada buku pinjaman mereka.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 28 April 2020  |  18:39 WIB
 Gedung HSBC di London, Inggris, Rabu (8/8/2018). - Reuters/Hannah McKay
Gedung HSBC di London, Inggris, Rabu (8/8/2018). - Reuters/Hannah McKay

Bisnis.com, JAKARTA -- HSBC Holdings Plc dan Banco Santander SA mengalami pukulan terbesar di antara bank-bank Eropa lainnya yang berjuang untuk menahan dampak virus corona pada buku pinjaman mereka. HSBC memperkirakan kerugian hingga US$11 miliar tahun ini karena wabah Covid-19.

Dilansir melalui Bloomberg, Selasa (28/4/2020) bank yang bermarkas di London itu telah mengalokasikan US$3 miliar untuk menutup kerugian dari pinjaman yang memburuk dalam tiga bulan pertama dan memperkirakan keuntungan yang lebih rendah.

Sementara itu, bank asal Spanyol, Santander, salah satu bank Eropa dengan provisi tinggi, telah mengalokasikan US$1,6 miliar euro atau US$1,7 miliar khusus untuk kerugian terkait Covid-19.

"Keadaannya akan lebih sulit. Jika terus memburuk, provisi untuk kredit macet akan meningkat diikuti oleh penurunan peringkat kredit yang akan memakan cadangan modal," ujar Nicholas Hyett, analis ekuitas di Hargreaves Lansdown, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (28/4).

Biaya provisi Santander untuk kuartal II/2020 melonjak ke rekor 3,9 miliar euro dalam tiga bulan pertama dan sudah mencapai level tertinggi selama lima tahun terakhir pada kuartal IV/2019.

Sebagian dari kondisi itu disebabkan oleh eksposur ke pasar negara berkembang seperti Brasil dan Meksiko dan bisnis pinjaman sub-prime di AS.

"Kami siap menghadapi angin sakal yang akan kami derita di kuartal mendatang," ujar CEO Santander Jose Antonio Alvarez, setelah bank melaporkan laba bersih untuk kuartal pertama anjlok 82% karena biaya provisi yang tinggi.

Di HSBC, rencana Chief Executive Officer baru Noel Quinn untuk meningkatkan profitabilitas harus terhalang wabah virus yang telah mengguncang industri perbankan di seluruh dunia.

Kerugian kredit untuk kuartal ini salah satunya didorong oleh kerugian yang signifikan di Singapura, di mana bank kini berada di ujung tombak atas kredit macet US$600 juta kepada perusahaan pedagang minyak.

HSBC tidak menyebutkan nama peminjam dalam rilis pendapatan. Namun, Bloomberg News sempat melaporkan bahwa HSBC adalah kreditor terbesar untuk Hin Leong Trading (Pte) Ltd. di Singapura

Adapun, atas perintah regulator Inggris, bank yang fokus bisnisnya di Asia itu memutuskan untuk tidak membayar dividen bulan lalu guna mempertahankan modal untuk pinjaman selama pandemi, kebijakan yang memicu kemarahan para investor di Hong Kong.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan covid-19
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top