Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Fintech Akseleran Berhasil Tekan Angka Kredit Macet, Ini Jurusnya

Ivan Nikolas Tambunan, CEO & Co-Founder Akseleran menjelaskan bahwa tingkat total keberhasilan pengembalian pinjaman di perusahaan fintech pembiayaan tersebut kini telah mencapai 99,56%.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 24 Juli 2020  |  17:39 WIB
Co Founder & Chief Executive Officer PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia Ivan Nikolas Tambunan. Bisnis - Nurul Hidayat
Co Founder & Chief Executive Officer PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia Ivan Nikolas Tambunan. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) mengungkapkan tiga resep dalam menekan kenaikan kredit bermasalah di tengah kondisi perekonomian nasional yang terdampak pandemi Covid-19.

Ivan Nikolas Tambunan, CEO & Co-Founder Akseleran menjelaskan bahwa tingkat total keberhasilan pengembalian pinjaman di perusahaan fintech pembiayaan tersebut kini telah mencapai 99,56%.

Artinya, angka non-performing loan [NPL] Akseleran kini tinggal 0,44% saja, yang notabene juga melewati masa pandemi Covid-19. Sebelumnya, NPF Akseleran masih 0,7% di akhir 2019.

"Ini terlihat tren NPL kami malah turun akibat beberapa upaya yang dilakukan, jadi bisa dikatakan upayanya cukup berhasil. Selain itu, angka tingkat keberhasilan pengembalian pada hari ke-90 [TKB90] kami pun naik ke angka 97,1%," ujarnya ketika dikonfirmasi Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Ivan menjelaskan, turunnya kredit bermasalah tersebut merupakan buah antisipasi yang dilakukan Akseleran lewat pengetatan penyaluran pembiayaan sejak Januari 2020, atau sebelum pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia.

"Upaya kami untuk menekan NPL pertama dengan melakukan shifting portfolio ke pinjaman yang lebih kecil risikonya, yaitu invoice financing yang underlying-nya adalah invoice yang tinggal menunggu dibayar, dari sebelumnya sebagian besar berupa pre-invoice financing yang underlying-nya SPK atau kontrak," jelasnya.

Sekadar informasi, invoice financing berarti pelaku usaha sudah menyelesaikan pekerjaannya namun belum menerima pembayaran, sehingga butuh suntikan modal untuk likuiditasnya.

Portofolio Akseleran terhadap invoice financing yang tadinya hanya 30% pun, kini berbalik mendominasi menjadi 60% dari total penyaluran.

Namun, bukan berarti Akseleran mulai 'anti' terhadap pre-invoice financing. Ivan menjelaskan apabila pelaku usaha mampu membuktikan memiliki cash flow yang baik, Akseleran akan tetap mengakomodasi pinjamannya.

"Selain itu, kami memperketat assesment pinjaman, termasuk beberapa rasio keuangan yang kami terapkan dalam credit scoring model kami. Upaya ketiiga, kami memperketat monitoring serta efisiensi penagihan yang kami lakukan," tambahnya.

Dengan berbagai upaya ini, Akseleran juga membuktikan diri sebagai menjadi salah satu platform fintech peer to peer (P2P) lending yang tak masuk ke dalam tren penurunan persentase tingkat keberhasilan pengembalian pada hari ke-90 (TKB90) di statistik Otoritas Jasa Keuangan.

Pasalnya, OJK mencatat adanya fenomena tren penurunan TKB90 selama pandemi Covid-19, mulai Maret 2020 di mana persentasenya masih 95,78%, kemudian turun ke angka 95,07% per April 2020, dan terakhir sebesar 94,9% pada Mei 2020.

Terakhir, Akseleran sepakat bahwa integrasi Fintech Data Center (FDC) dengan sesama P2P lending lain, akan mampu menekan lebih baik lagi terhadap risiko NPL.

Seperti diketahui, FDC akan mengintegrasikan data portofolio calon borrower/debitur, beserta data-data dasarnya, dan rekam jejak kredit borrower ke seluruh penyelenggara P2P lending, sehingga dapat mengurangi potensi kredit bermasalah.

"Melalui FDC kami bisa melihat apakah seorang debitur telah mempunyai pinjaman di fintech lain, jadi bisa tau kalau dia sudah terlalu banyak pinjaman. Selain itu kami juga bisa melihat status pinjamannya, apakah lancar atau ada yang telat atau macet, jadi kami juga bisa hindari debitur yang sudah nunggak," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan kredit fintech P2P lending
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top