Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BI: Masalah Likuiditas Bank Teratasi, Tapi Kredit Masih Menantang

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya telah mendorong terjaganya supply dari fungsi intermediasi perbankan lewat kebijakan penurunan suku bunga acuan hinga relaksasi kebijakan makro prudensial maupun mikro prudensial.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  15:30 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8 - 2020), Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (18/8 - 2020), Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mengaku upaya untuk mengatasi masalah intermediasi perbankan dari sisi permintaan masih cukup menantang. Hingga saat ini, pihaknya telah berupaya mengatasi masalah yang dihadapi kinerja fungsi intermediasi perbankan dari sisi supply atau pasokan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya telah mendorong terjaganya supply dari fungsi intermediasi perbankan lewat kebijakan penurunan suku bunga acuan hinga relaksasi kebijakan makro prudensial maupun mikro prudensial. Kebijakan-kebijakan tersebut membuat industri perbankan bisa mengatasi masalah likuiditas.

Adapun likuiditas perbankan terhitung sangat ample yang terlihat dari rasio aset likuid terhadap dana pihak ketiga (DPK) yang berada pada posisi 31,2 persem sebagai akibat dari kebijakan quantitative easing yang telah dilakukan BI senilai Rp667,6 triliun.

Hal itu juga terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) perbankan yang sangat rendah yakni berada pada posisi 83,2 persen dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) 12,8 persen.

Menurutnya, saat ini yang masih menjadi isu atau permasalah pada fungsi intermediasi perbankan adalah penyaluran kredit. Pertumbuhan kredit per September 2020 hanya mencapai 0,12 persen dengan pelemahan tidak hanya terjadi di kota-kota besar tetapi juga daerah.

Selain itu, peningkatan risiko kredit juga menjadi permasalahan yang cukup sulit untuk diatasi karena berkaitan dengan demand masyarakat.

"Dampak Covid-19, kegiatan usaha menurun dan ini akan digenjot dengan absorbsi anggaran yang dipercepat dan tentu saja bagaimana produktif aman sehingga di sinilah kami terus berusaha untuk matching-kan antara supply dan demand," katanya dalam Capital Market Summit anda Expo (CMSE), Senin (19/10/2020).

Perry mengatakan pihaknya bersama otoritas terkait berupaya memetakan sektor-sektor yang memiliki dampak ekonomi tinggi dan risiko-risiko pandemi yang rendah. Sektor tersebut seperti informasi komunikasi, jasa keuangan, pemerintahan, pertahanan, maupun jaminan sosial.

Sektor yang memiliki dampak ekonomi tinggi dengan dampak pandemi medium meliputi listrik, gas, air, industri pengolahan, konsturksi, dan perdagangan. Sektor-sektor dengan dampak ekonomi medium dengan dampak pandemi rendah adalah pertanian, kehutanan, maupun perikanan.

"Kami seperti itu kami mapping-kan permintaan demand dan supply kredit. Sektor-sektor yang bisa jadi leading pemulihan ekonomi dan penyaluran kredit antara lain industri makanan minuman, industir logam dasar, pos dan telekominasi, maupun barang dari kulit dan alas kaki," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia perbankan kredit likuiditas
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top