Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Sejumlah Bank Milik Taipan Tahan Pandemi, Ditopang Grup Usaha

Dari 15 bank milik konglomerat yang direkap Bisnis, 9 bank di antaranya mencetak pertumbuhan laba.
M. Richard & Azizah Nur Alfi
M. Richard & Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 16 November 2020  |  18:28 WIB
Ilustrasi Bank - Istimewa
Ilustrasi Bank - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Mayoritas bank milik para konglomerat mencetak kinerja apik selama 9 bulan tahun ini. Salah satu pendorongnya berasal dari dukungan grup usaha.

Dari 15 bank milik konglomerat yang direkap Bisnis, 9 bank di antaranya mencetak pertumbuhan laba.

Misalnya, empat bank di bawah perusahaan milik Chairul Tanjung PT Mega Corpora, yakni PT Bank Mega Tbk., PT Bank Mega Syariah, PT Bank Sulutgo, dan PT Bank Sulteng, kompak membukukan pertumbuhan laba masing-masing 27,77 persen, 109,62 persen, 7,68 persen, dan 54,02 persen secara year on year (yoy).

Demikian pula, PT Bank Sinarmas Tbk. di bawah naungan Sinarmas Group, PT Bank Ina Perdana Tbk. yang berada di bawah Grup Salim, serta PT Bank Nationalnobu Tbk. yang berada di bawah Grup Lippo milik Mochtar Riady. Juga PT Bank BCA Syariah dan PT Bank Sahabat Sampoerna.

Laba BCA Syariah tumbuh 13,69 persen yoy menjadi Rp44,10 miliar per September 2020. Direktur PT BCA Syariah Rickyadi Widjaja mengatakan pertumbuhan laba berasal dari optimalisasi pendapatan dari pembiayaan yang disalurkan.

Dia mengatakan bank mendapatkan dukungan dari induk usaha berupa setoran modal sebesar Rp1 triliun pada tahun lalu. Dari situ, perseroan dapat mendorong pembiayaan lebih ekspansif. Hal ini tercermin dari pembiayaan yang masih tumbuh 8 persen secara yoy per September 2020.

Nasabah bertransaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri Bank Sinarmas./JIBI-Dwi Prasetya

Di samping itu, perseroan juga mendapatkan limpahan DPK dari induk sebagai implementasi Qanun LKS Aceh, sehingga mendorong rasio CASA yang otomatis memangkas biaya dana. Dukungan lain berupa infrastruktur agar layanan digital BCA Syariah dapat menyerupai induknya.

"Laba kami bisa tumbuh double digit karena pembiayaan yang masih tumbuh secara yoy dan cost of fund kami pangkas terus. Sampai akhir tahun laba bersih diperoyeksi sekitar Rp70 miliar, sesuai dengan RBB," katanya, Senin (16/11/2020).

Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) Suria Dharma mengatakan kinerja bank sebenarnya tidak cukup dilihat dari laba, tetapi juga provisi dan coverage-nya.

"Bank besar memiliki coverage dan provision yang tinggi. Bank lebih kecil sering kali tidak mencadangkan tinggi, karena biaya provisi yang tinggi juga menekan laba bersih mereka. Walaupun demikian, adanya PSAK 71 juga memaksa bank kecil menaikkan CKPN," katanya, Senin (16/11/2020).

Lebih lanjut, Suria menambahkan faktor yang mendorong kinerja bank dalam grup usaha yakni kemampuan bank tersebut untuk menyalurkan kredit dan menghimpun DPK. Meski demikian, bank dalam grup usaha memiliki peluang pendanaan kepada grup dengan batasan maksimal yang diatur oleh regulator. Bank juga dapat menjaga kualitas kreditnya.

"Kinerja klien yang bagus walaupun satu grup tidak akan menaikkan laba bank. Hanya saja kualitas kreditnya mungkin lebih baik," imbuhnya.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan secara umum bank mengalami penurunan laba hingga kuartal III/2020 karena dampak pandemi.

Bank banyak melakukan restrukturisasi kredit dan lebih selektif menyalurkan kredit. Alhasil, pendapatan bunga turun, sementara biaya operasional tetap sama.

Adapun, bank milik konglomerat yang mencatatkan kinerja apik dinilai wajar karena ditopang grup usaha. Trioksa melihat bank yang memiliki grup usaha akan lebih terbantu oleh lini bisnisnya.

"Artinya mereka memiliki alternatif penyaluran kredit kepada grup usahanya sehingga lebih terkendali. Seperti Mega Corpora yang memiliki grup usaha di berbagai lini, juga dengan Sinarmas," katanya, Senin (16/11/2020).

Karyawan melayani nasabah di salah satu kantor cabang Bank Mega di Jakarta, Rabu (11/11/2020)/Bisnis-Eusebio Chrysnamurti

Trioksa melihat prospek pertumbuhan laba bank milik para konglomerat tersebut masih positif sampai akhir tahun. Proyeksi ini melihat bank-bank yang mulai berani menyalurkan kredit seiring dengan ekonomi yang mulai bergeliat, serta grup usahanya yang ekspansif.

"Risiko secara umum sama, tetapi mereka tertopang dari grup usahanya yang banyak. Selama grup ini masih kuat di dalam bisnis, maka masih positif," katanya.

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur Bank Panin Herwidayatmo menuturkan usaha di sektor keuangan baik yang terkait dengan Panin Group maupun ANZ Group memiliki kinerja cukup baik.

Di samping itu, dia juga tak menampik kinerja usaha dari pemegang saham baik di luar sektor keuangan pun juga masih cukup stabil.

"Semua masih cukup baik. Hanya saja belum masuk dalam tahap ekspansi seperti masa sebelum pandemi," katanya, Senin (16/11/2020).

Berdasarkan catatan Bisnis, Bank Panin termasuk dalam bank umum kelompok usaha (BUKU) IV yang kinerja labanya tidak terpangkas terlalu dalam. Bahkan perseroan masih berharap dapat membukukan profitabilitas sampai akhir tahun sama seperti 2019.

Dalam Panin Financial Group, Bank Panin bersaudara dengan PT EPanin Ditcom, dan Panin Internasional. Perseroan sendiri memiliki beberapa anak usaha seperti PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk., dan PT Clipan Finance Indonesia Tbk.

Jika ditelusuri lebih jauh, taipan Mu'min Ali Gunawan pun tercatat memiliki saham di PT Jababeka Tbk. sekitar 21 persen.

Senada, Pemegang Saham Pengendali Bank PT Bank Maspion Tbk. (BMAS) Alim Markus mengkonfirmasi kinerja seluruh bisnis dalam grup masih cukup stabil di masa pandemi. Hal ini pula yang membuat kinerja perseroan tergolong sangat stabil melewati 2020.

"Bank kami masih bagus sekali," sebutnya.

Berdasarkan laporan kuartal ketiga tahun ini, Bank Maspion membukukan laba bersih Rp41 miliar, hanya turun 6,8 persen dari periode sama tahun lalu. Perseroan bahkan masih mampu membukukan pertumbuhan bersih 5,49 persen secara tahunan menjadi Rp5,74 triliun.

Alim memaparkan permintaan masyarakat terhadap produk Maspion masih cukup kuat selama masa pandemi. Integrasi bank dan semua bisnis juga cukup kuat dengan tata kelola risiko terjaga sehingga mampu menjawab momentum konsumsi masyarakat.

"Semua barang maspion yang consumer good tumbuh baik. Integrasinya dengan bank juga berjalan lancar," sebutnya.

Adapun, Maspion Grup memiliki sekitar 18 perusahaan terafiliasi termasuk Bank Maspion. Sektor bisnis cukup beragam dari perdagangan hingga industri pengolahan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank perbankan chairul tanjung sinarmas konglomerasi kinerja bank
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top