Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Home Credit Optimistis Transaksi Belanja di Toko Ritel Tetap Moncer

Alih-alih sepenuhnya berbelanja online, responden survei lebih menyukai untuk bisa mendapatkan yang terbaik dari kedua pola berbelanja tersebut, baik konvensional maupun online.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 06 Januari 2021  |  21:49 WIB
Home Credit Indonesia - Istimewa
Home Credit Indonesia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Survei perilaku belanja pelanggan yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan multiguna PT Home Credit Indonesia menunjukkan mayoritas masyarakat masih antusias berbelanja ke toko secara fisik.

Survei ini digelar Home Credit Indonesia pada Agustus 2020 terhadap lebih dari 2.500 responden di Indonesia, untuk lebih memahami produk apa saja yang banyak dibeli pelanggan di berbagai outlet; seberapa sering pelanggan berbelanja; hingga jenis pembayaran yang mereka gunakan.

Hasilnya, di era yang sudah serba digital ini, para pelanggan masih menyukai aktivitas belanja secara konvensional atau berkunjung ke toko favorit mereka. Alih-alih sepenuhnya berbelanja online, para responden menyatakan mereka lebih suka mendapatkan yang terbaik dari kedua pola berbelanja tersebut, baik konvensional maupun online.

President Director Home Credit Indonesia, Animesh Narang mengatakan hasil survei tersebut menyanggah anggapan bahwa 'akhir era belanja offline' sudah semakin dekat. Dia berharap survei ini dapat memberikan gambaran lebih luas, bukan sekadar informasi mengenai volume transaksi yang dilakukan di toko tradisional dan transaksi yang dilakukan secara online.

"Lebih jauh lagi, survei ini memberikan informasi tentang alasan mengapa pelanggan memilih cara belanja, baik secara konvensional maupun online serta bagaimana mereka mengambil keputusan dalam cara mereka berbelanja," ujar Animesh dalam keterangannya, Rabu (6/1/2021).

Menurutnya, survei ini juga penting bagi industri marketing yang saat ini menghadapi tuntutan baru untuk memahami segmentasi pelanggan. Mereka yang berkecimpung di dunia marketing bukan hanya harus mempertimbangkan perbedaan antara belanja online dan konvensional, tetapi juga kombinasi keduanya.

"Dengan mengetahui alasan orang berbelanja, jenis barang yang dibeli, dan seberapa sering mereka melakukannya, kita dapat menargetkan dan melakukan segmentasi produk pembiayaan kita dengan lebih baik dan sesuai kebutuhan pelanggan," tambah Animesh.

Segmentasi pelanggan berdasarkan profil demografi dan atribut gaya hidup seperti usia, jenis kelamin, lokasi, dan minat bukanlah konsep yang baru bagi marketing. Bahkan, belanja online dapat memberikan lebih banyak data yang dapat diperbarui sesering mungkin. Namun, manfaat yang sama juga bisa didapatkan dengan metode pembayaran digital modern di gerai belanja konvensional.

Survei yang sama juga menunjukkan bahwa metode pembayaran cash-on-delivery (COD) masih banyak digunakan di toko online, disusul oleh kartu debit, atau transfer antar bank. Di sisi lain, hasil yang cukup berbeda juga terlihat dari penggunaan layanan keuangan seperti pembayaran tagihan atau cicilan, yang ternyata masih banyak dilakukan di minimarket modern serta digunakan secara berkala oleh sepertiga pelanggan yang disurvei.

"Contoh lain mengenai kebiasaan berbelanja adalah mengenai toko konvensional di Indonesia yang sebagian besar merupakan bisnis keluarga dan etalase toko kecil yang biasanya mendominasi penjualan produk segar dan makanan pokok. Dari hasil survei terlihat bahwa 88 persen orang Indonesia masih memilih untuk berbelanja produk makanan sehari-hari di pasar/toko tradisional," ungkapnya.

Meskipun demikian, hampir semua pembeli atau 93 persen, juga berbelanja di toko-toko ritel modern, seperti minimarket dan jaringan supermarket, untuk berbelanja kebutuhan pribadi, pakaian, pembersih rumah atau produk elektronik.

"Hal ini bisa juga menjadi indikasi bahwa pemilik gerai belanja modern seperti supermarket mungkin tidak perlu fokus menawarkan produk makanan untuk menarik pelanggan baru dan tetap. Sebaliknya, mereka harus fokus ikut berpartisipasi dalam persaingan online," ungkapnya.

Selain itu, survei Home Credit menunjukkan bahwa 79 persen orang Indonesia pernah berbelanja secara online dalam 3 bulan belakangan sebelum mengikuti survei.

Hal ini menunjukan bahwa layanan e-commerce semakin penting akibat pembatasan PSBB selama pandemi dan diprediksi terus berkembang ke depannya. Belanja online banyak dipilih oleh pelanggan untuk produk fashion, perhiasan, furniture/dekorasi rumah, dan gadget elektronik.

Adapun, pembelian produk elektronik pribadi seperti ponsel baik di toko fisik dan toko online memiliki proporsi yang sama. Hal ini memberikan keuntungan pada penawaran Home Credit karena dapat membantu konsumen melakukan pembelian dengan cepat dan nyaman melalui berbagai jalur distribusi.

Alhasil, proses digitalisasi telah mengubah perilaku konsumen dalam berbelanja dengan adanya pilihan yang lebih beragam, yang mempengaruhi pengambilan keputusan, tuntutan harga untuk semakin kompetitif, serta mendorong persaingan dengan pasar tradisional.

"Implikasinya bagi bisnis adalah untuk mendiversifikasi pilihan metode pembayaran dan pembiayaan mereka, baik dalam platform belanja online maupun offline," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

transaksi online home credit indonesia
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top