Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bisnis Asuransi Negara Berkembang Diramal Tumbuh 7 Persen, di Atas Proyeksi Global

Pada 2021 ini, industri asuransi di negara maju diperkirakan hanya tumbuh 3 persen, sedangkan di negara berkembang dapat tumbuh hingga 7 persen.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  04:30 WIB
Ilustrasi Asuransi - Istimewa
Ilustrasi Asuransi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Industri asuransi umum di negara berkembang diproyeksikan akan tumbuh hingga 7 persen pada 2021, melebihi proyeksi pertumbuhan secara global. Jika proyeksi itu tercapai, pertumbuhan bisnis asuransi kembali mendekati kondisi sebelum pandemi Covid-19.

Berdasarkan riset Swiss Re Institute, pertumbuhan bisnis asuransi secara global diproyeksikan mencapai 3 persen pada 2021. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan bisnis secara global yang 0 persen pada 2020.

Swiss Re mencatat terdapat perbedaan proyeksi bisnis di pasar asuransi negara maju dan negara berkembang. Pada 2021 ini, industri asuransi di negara maju diperkirakan hanya tumbuh 3 persen, sedangkan di negara berkembang dapat tumbuh hingga 7 persen.

Vice Chairman and US Insurance Leader Deloitte Gary Shaw mengolah temuan itu dalam risetnya tentang outlook bisnis asuransi pada 2021. Deloitte menemukan bahwa sebagian besar perusahaan asuransi mampu beradaptasi dengan cepat dalam menghadapi pandemi Covid-19, tetapi masih terdapat kendala untuk mengejar profitabilitas.

Shaw menyatakan bahwa pandemi menghantam kinerja banyak perusahaan asuransi pada paruh pertama 2020. Dampak terbesar terjadi dalam proteksi pembatalan acara dan kompensasi pekerja, seiring harus dihentikannya berbagai aktivitas tatap muka.

Mengingat dampak pandemi pada operasional pekerjaan, aktivitas bisnis, dan perdagangan, Deliotte pun memperkirakan bahwa premi asuransi umum secara global relatif tidak berkembang besar pada 2020.

Dalam surveinya secara global, Deloitte menemukan bahwa banyak perusahaan asuransi merasa strategi yang mereka lakukan sepanjang 2020 masih sesuai untuk diterapkan saat ini. Hal tersebut terjadi salah satunya karena adaptasi setelah dihantam oleh hambatan karena pandemi.

"48 persen dari 200 eksekutif asuransi setuju bahwa pandemi menunjukkan betapa tidak siapnya bisnis asuransi untuk menghadapi badai ekonomi tersebut, sementara hanya 25 persen yang sangat setuju bahwa perusahaannya memiliki visi dan rencana tindakan yang jelas untuk mempertahankan ketahanan operasional dan keuangan selama krisis," tulis Shaw dalam laporan 2021 Insurance Outlook yang dikutip Bisnis pada Rabu (27/1/2021).

Deloitte pun memperkirakan pandemi yang masih terjadi akan terus membebani lini bisnis properti, lebih berat dibandingkan dengan lini bisnis lainnya. Shaw pun menyoroti penurunan peroleh premi dari usaha-usaha kecil yang terpukul karena penutupan atau pembatasan aktivitas bisnis.

Kinerja lini bisnis asuransi kendaraan turut terdampak selama pandemi Covid-19. Di benua Amerika, perusahaan-perusahaan asuransi mencatatkan kerugian setelah memberikan potongan premi kepada pemegang polis asuransi, karena adanya perkiraan berkurangnya jumlah pengemudi dan frekuensi kecelakaan.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Hastanto Sri Margi Widodo menilai bahwa industri asuransi kerugian harus mampu memastikan kualitas finansialnya dalam menghadapi 2021 ini. Kekuatan finansial akan mampu menjaga operasional dan memastikan kewajiban kepada nasabah terpenuhi.

Dia menekankan bahwa bisnis asuransi harus selalu berpegangan kepada prinsip menggunakan ekuitas untuk menyerap risiko atau liabilitas. Pendapatan dapat diperoleh setelah ekuitas melewati liabilitasnya.

"Kalau ada masalah di solvensi, turunkan sales-nya, top line itu meaningless, yang penting adalah earning-nya. Asuransi adalah semua soal liabilitas," ujar Widodo belum lama ini.

Dia menilai bahwa risiko terbesar yang dikhawatirkan industri asuransi kerugian adalah deviasi pemburukan terhadap hasil perhitungan saat membangun produk.

“Ini terkait dengan kemampuan memenuhi liabilitas jangka panjang. Kalau itu memang terjadi maka diperlukan penambahan modal untuk menutup liabilitas,” ujar Widodo.

Menurutnya, AAUI selalu menekankan para anggotanya agar mengelola liabilitas dengan baik. Dia menilai bahwa marwah industri asuransi adalah mengelola risiko atau liabilitas dengan aset yang ada, sehingga manajemen aset dan liabilitas itu menjadi kunci.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi aaui deloitte asuransi umum
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top