Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fintech Gigacover Masuk Indonesia, Incar Mitra Freelancer Sampai Pekerja Kreatif

Gigacover menerapkan strategi yang disebutnya B2B to Worker atau 'B2B2W', di mana baik platform, mitra, dan pekerja, semua mendapatkan keuntungan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 22 Juli 2021  |  20:09 WIB
Fintech Gigacover Masuk Indonesia, Incar Mitra Freelancer Sampai Pekerja Kreatif
Financial Technology (Fintech) - channelasia

Bisnis.com, JAKARTA - Gigacover, platform penyedia layanan keuangan buat pekerja independen atau gig economy tengah memperluas jaringan mitra di Indonesia, yaitu ekosistem atau usaha yang memiliki visi memberikan akses keuangan kepada para pekerja lepas di bawahnya. 

Sekadar informasi, fintech asal Singapura yang berdiri sejak 2017 ini telah melebarkan sayapnya ke Indonesia dan Filipina, mengakomodasi akses asuransi, pinjaman, earning advances atau pencairan gaji awal waktu, dan pembayaran beragam tagihan buat para pekerja lepas.  

Country Head Gigacover Indonesia Cobysot Avego Putro optimistis bahwa pihaknya bisa menjadi solusi dalam menciptakan keamanan finansial dan jaminan kesehatan yang lebih baik bagi semua pekerja independen dan pelaku gig economy di Indonesia. Gigacover telah menggandeng 30.000 pekerja dari mitra-mitranya di sektor logistik, outsourcing, platform ride-hailing, lembaga keuangan, dan beberapa sektor lain di Tanah Air.

Gigacover Indonesia tahun ini ingin memperbanyak mitra dan mengincar mengakomodasi pekerja lepas dalam platform selalu pengguna, mencapai kurang lebih 200.000 orang. 

"Gig workers biasanya bingung kalau punya kebutuhan mendadak, padahal hari gajian masih lama. Selain itu, biasanya risiko pekerjaan mereka besar. Sebagai contoh, kita bekerja sama dengan Gojek Singapura, driver-driver di sana kan butuh yang namanya asuransi kalau kecelakaan atau sakit. Inilah alasan kami hadir," ujarnya, Kamis (22/7/2021).

Selain empat layanan yang sudah meluncur, yaitu earning advance, proteksi, pinjaman, dan pembayaran, Gigacover Indonesia berencana meluncurkan healthcare untuk para pekerja lepas bisa mengakomodasi medical check termasuk tes Covid-19, diskon pembelian obat, dan clinics appointment

Hingga saat ini, Gigacover telah menggadeng beberapa perusahaan seperti Gojek, Foodpanda, dan Gogox di Singapura, dan baru menambah Lalamove serta AXA Financial Agent di Indonesia, sambil terus menjangkau lebih banyak pemain lokal lainnya.

Coby mengungkapkan pihaknya tengah mengincar mitra yang menaungi sektor pekerja kreatif, mulai dari konten kreator lewat talent management, sampai para social media influencer, mitra yang memiliki pekerja di manufacturing business, FMCG, sampai new retail

Sekadar informasi, Gigacover menerapkan strategi yang disebutnya B2B to Worker atau 'B2B2W', di mana baik platform, mitra, dan pekerja, semua mendapatkan keuntungan. Mitra yang mendaftarkan pekerjanya ke Gigacover, juga akan mendapatkan manfaat berupa produktivitas yang lebih baik dan kepercayaan dari pekerjanya, sedangkan pekerja tersebut diuntungkan dari akses finansial yang lebih fleksibel dan peningkatan literasi keuangan. 

Sebagai gambaran, Chief of Proposition Alternate Distribution & Partnership AXA Financial Indonesia Yudhistira Dharmawata menceritakan bahwa pihaknya terbantu dengan kerja sama dengan Gigacover untuk mengakomodasi kebutuhan para agen asuransi di bawah naungan AXA Financial. 

"Agen yang mau kinerjanya optimal itu membutuhkan gadget mumpuni seperti tablet dengan layar besar untuk mengakses portal agen. Kerja sama kita dengan Gigacover, membuat agen-agen tadi bisa mendapatkan pinjaman installment mulai 6-12 bulan buat membeli gadget tersebut," jelasnya. 

Adapun, AXA Financial sendiri ikut mengakomodasi layanan proteksi yang ditawarkan Gigacover untuk para pekerja lepas, berupa Hospital Cash Plan, Care Protection, dan Personal Accident. Pasalnya, AXA Financial percaya platform ini bisa menjadi kanal digital yang memiliki jangkauan luas kepada pekerja akar rumput di Indonesia. 

Sementara itu, Co-Founder & CEO Gigacover Amerson Lin mengungkapkan, tren maraknya pekerja lepas dan independen di Asia Tenggara menjadi tantangan dan peluang bagi fintech. 

"Kami melihat peluang pertumbuhan yang sangat besar karena semakin banyak generasi milenial memilih untuk berwirausaha, dan perusahaan menerapkan perekrutan tenaga kerja hybrid dengan mengambil lebih banyak staf kontrak dan pekerja tidak tetap," ungkapnya.  

Selama 5 tahun ke depan, Gigacover menargetkan dapat melayani 7 juta pekerja independen Indonesia dan lebih dari 20 juta pengguna di seluruh wilayah Asia Tenggara.

Berdasarkan data World Bank 2019, tenaga kerja independen Asia Tenggara telah mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 30 persen, dan jumlahnya semakin meningkat pada tahun 2020 selama pandemi. 

Google dan Temasek juga memproyeksi bahwa ada sekitar 150 juta individu pekerja independen di kawasan tersebut dengan 50 persen di antaranya mengalami kesulitan akses ke berbagai layanan finansial dan tidak memiliki perlindungan kerja yang memadai.

Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS), mencatatkan ada sebanyak 33,34 juta orang di Indonesia yang bekerja sebagai pekerja paruh waktu atau pekerja lepas per Agustus 2020, naik 4,32 juta orang atau 26 persen. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pekerja freelancer fintech
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top