Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fintech P2P Lending Berlomba Perluas Layanan Buat UMKM Digital

Ekspansi layanan merupakan salah satu cara menarik lebih banyak borrower, sekaligus mempertahankan borrower eksisting.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 06 September 2021  |  21:29 WIB
Fintech P2P Lending Berlomba Perluas Layanan Buat UMKM Digital
Pengunjung melihat produk UMKM di Jakarta, belum lama ini. Bisnis - Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Para penyelenggara teknologi finansial peer-to-peer (P2P) lending berupaya memperkuat penetrasinya ke segmen peminjam (borrower) incarannya, lewat perluasan layanan.

Sekadar informasi, secara umum industri fintech P2P lending terbagi dalam klaster produktif, konsumtif, dan syariah. Namun, pertarungan branding dan ciri khas yang paling kentara, terutama berasal dari pemain klaster produktif, karena menyasar borrower UMKM yang berbeda-beda.

Oleh sebab itu, ekspansi layanan merupakan salah satu cara menarik lebih banyak borrower, sekaligus mempertahankan borrower eksisting agar terus dekat dengan platform dan harapannya menjadi repeat user ketika berkebutuhan meminjam dana kembali.

Sebagai contoh, PT Lunaria Annua Teknologi (KoinWorks) sebagai salah satu platform yang paling banyak menjaring segmen personal business dan pelaku usaha jual-beli di e-commerce atau akrab disapa 'pelapak online', menilai bahwa kolaborasi dengan layanan perbankan digital merupakan prioritas yang tengah dituju.

Chief Marketing Officer KoinWorks Jonathan Bryan menjelaskan bahwa hal ini menilik fenomena masih banyaknya calon borrower UMKM yang masih menggunakan rekening bisnis bercampur rekening pribadi.

Berdasarkan hasil riset internal KoinWorks, hal ini bukan hanya karena mereka belum terbiasa atau belum memiliki awareness pengelolaan rekening bisnis, tapi juga karena lembaga keuangan konvensional dan fintech eksisting belum ada yang fokus menyediakan solusi berkaitan fenomena ini.

Alhasil, fenomena 'rekening campur' ini tentunya menghambat pelaku naik level, karena apabila mereka berniat melakukan ekspansi bisnis lewat pinjaman produktif, profil credit scoring mereka akan terdampak menjadi lebih buruk dari seharusnya.

"Ini salah satu problem besar, karena biasanya mereka berpikir selama ini bisnis jalan baik-baik saja, tuh. Padahal, ke depan, ini akan berpengaruh ke credit scoring berkaitan pengelolaan bisnis. Kita lebih sulit melihat pendapatan dan labanya, sehingga platform P2P pun sulit menawarkan fundraising mereka ke para pendana [lender]," jelasnya dalam wawancara khusus kepada Bisnis, Senin (6/9/2021).

Oleh sebab itu, KoinWorks berencana meluncurkan salah satu layanan yang menggandeng perbankan digital bertajuk KoinWorks Neo, yang akan menyediakan layanan rekening bank digital instan, debit, dan kartu kredit yang dikhususkan untuk para pelaku bisnis UMKM.

Jonathan menjelaskan produk yang masih dalam tahap pra-registrasi calon pengguna ini telah dikonsep sejak pertengahan 2020, dengan harapan bisa ikut mengatasi salah satu fenomena hambatan UMKM tersebut.

Selain itu, KoinWorks juga akan melakukan ekspansi layanan berkaitan fitur-fitur digital pembantu bisnis. Ke depan, rencananya ekspansi juga akan meluas untuk membantu para borrower UMKM mengurus legalitas, sampai membuka kelas digital marketing.

"Jadi tujuan kita bukan hanya memberikan pinjaman saja, tapi menjadi bagian yang ikut membangun bisnis para borrower dari awal mendirikan sampai berkembang dan naik kelas, dan ini kan menjadi full circle buat ekosistem kita," tambahnya.

Serupa tapi tak sama, PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) juga tengah mengembangkan layanan baru untuk segmen borrower incarannya, yaitu pelaku usaha mikro wanita di pedesaan.

Salah satu yang telah meluncur yaitu platform Amartha Plus di mana borrower pembuat makanan ringan, kerajinan tangan, pengelola warung makan, atau warung kelontong difasilitasi untuk turut menggelar bisnis berkaitan transaksi digital via Amartha.

Produknya, yaitu Warung Loan Mitra untuk kulakan supply warung dengan skema paylater, Warung Loan nonMitra yang bekerja sama dengan Sampoerna Retail Community (SRC), dan Amartha Pulsa (PPOB) untuk Mitra yang berminat menggelar jasa pulsa, token listrik, sampai pembayaran tagihan.

Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menjelaskan bahwa inovasi produk juga merupakan salah satu langkah mempertajam lini bisnis utama Amartha sebelumnya yang hanya berasal dari pendanaan berbasis kelompok atau group lending.

Ke depan, Amartha juga berencana menggelar layanan horizontal untuk membawa borrower 'emak-emak' Amartha bisa berbelanja borongan secara digital, membantu mereka berkenalan dengan investasi dan proteksi lewat asuransi, sampai memiliki credit score sendiri untuk membantu penilaian kredit bagi lembaga keuangan lain yang ingin terjun ke pelaku usaha wanita mikro di pedesaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm fintech P2P lending Pinjaman Online
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top