Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hati-Hati Trojan Mobile Banking, Bisa Curi Duit dari Rekening!

Pelaku kejahatan siber atau hacker menggunakan trojan mobile banking untuk mencuri dana langsung dari rekening bank seluler atau m-banking
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 September 2021  |  16:12 WIB
Ilustrasi seorang pria sedang mengetik kode siber. - Reuters/Kacper Pempe
Ilustrasi seorang pria sedang mengetik kode siber. - Reuters/Kacper Pempe

Bisnis.com, JAKARTA - Kaspersky melaporkan adanya peningkatan 60 persen serangan trojan mobile banking berbahaya yang terdeteksi dan diblokir di kawasan Asia Tenggara.

Yeo Siang Tiong, General Manager Kaspersky untuk Asia Tenggara, menjelaskan pelaku kejahatan siber atau hacker menggunakan trojan mobile banking untuk mencuri dana langsung dari rekening bank seluler atau m-banking. Program bahaya ini bisa terlihat seperti aplikasi keuangan yang resmi.

“Ketika korban memasukkan kredensial untuk mengakses rekening bank mereka, penyerang kemudian mendapatkan akses ke informasi pribadi itu,” ujarnya dilansir Tempo.co pada Senin (6/9/2021).

Total jumlah trojan mobile banking yang diblokir pada 2020 tercatat sebanyak 1.408. Secara keseluruhan, sejak awal 2021, produk Kaspersky telah menggagalkan sebanyak 708 insiden serangan seperti itu di enam negara di Asia Tenggara.

Indonesia dan Vietnam mencatat jumlah insiden terbanyak selama semester pertama tahun ini. Namun, secara global, kedua negara tersebut tidak termasuk dalam 10 besar negara yang terkena dampak ancaman ini. Vietnam berada di peringkat ke-27, sedangkan Indonesia di urutan ke-31 per Juni tahun ini.

“Lima negara dengan jumlah deteksi Trojan mobile banking terbanyak pada kuartal kedua 2021 adalah Rusia, Jepang, Turki, Jerman, dan Prancis,” kata Siang Tiong.

Jumlah serangan trojan mobile banking di Asia Tenggara terpantau masih rendah. Namun, dari periode April hingga Juni tahun ini, Kaspersky mendeteksi lebih banyak dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu 367 versus 230 deteksi.

Hal ini menunjukkan pandemi yang berkelanjutan terus memaksa pengguna untuk mulai menggunakan sistem pembayaran seluler, dan cashless menjadi lebih umum. Tercatat bahwa banyak masyarakat yang mengalihkan aktivitas keuangannya secara online, seperti berbelanja sebesar 64 persen dan perbankan sebesar 47 persen.

Laporan Kaspersky lainnya berjudul 'Making Sense of Our Place in the Digital Reputation Economy' mengungkapkan mayoritas atau 76 persen dari 861 responden dari Asia Tenggara tidak berniat untuk menyimpan data terkait keuangan di internet. Sentimen tertinggi berada di kalangan Baby Boomers sebesar 85 persen, diikuti oleh Gen X sebesar 81 persen, dan milenial sebesar 75 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekening mobile banking trojan kejahatan siber

Sumber : tempo.co

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top