Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pembiayaan Baru BFI Finance (BFIN) Naik 72 Persen, Ditopang Mobil Bekas

Pandemi mendorong kendaraan pribadi turut menjadi kebutuhan masyarakat. Adapun, di tengah tren penurunan harga mobil baru karena mendapat insentif pemerintah, pasaran mobil bekas yang turut 'banting harga' pun tetap memiliki peminat sendiri.
Direktur Keuangan PT BFI Finance Indonesia Tbk Sudjono (kanan)  didampingi Direktur Pemasaran Sutadi memberikan penjelasan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Senin (14/1/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan
Direktur Keuangan PT BFI Finance Indonesia Tbk Sudjono (kanan) didampingi Direktur Pemasaran Sutadi memberikan penjelasan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Senin (14/1/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan pembiayaan PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFI Finance) mencatatkan pembiayaan baru sepanjang tahun berjalan telah melampaui capaian penuh periode 2020 atau era awal pandemi Covid-19.

Sekadar informasi, penyaluran pembiayaan multifinance berkode emiten BFIN ini telah mencapai Rp9,4 triliun hingga kuartal III/2021, naik 72,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

Adapun, sepanjang periode 2020 penyaluran BFIN hanya Rp7,6 triliun, merosot hingga 52,2 persen (yoy) dari capaian 2019 di Rp15,89 triliun. Hal ini utamanya disebabkan kebijakan perusahaan untuk setop pembiayaan baru sementara pada awal melonjaknya kasus Covid-19 atau di kisaran kuartal II/2020.

Direktur Keuangan BFI Finance Sudjono menjelaskan bahwa pulihnya ekonomi dan daya beli masyarakat menjadi pendorong utama kinerja pembiayaan, terutama di segmen andalan perusahaan, yaitu fasilitas kredit mobil bekas (mobkas).

"Lebih dari 70 persen pembiayaan kami masih berasal dari kontribusi pembiayaan mobil bekas. Aktivitas jual-beli mobil bekas memang relatif stabil sepanjang tahun ini. Apalagi, kita fokus di segmen middle, paling laku di jenis MPV [multi purpose vehicle]," ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (26/10/2021).

BFIN mengaku ketiban berkah adanya kebutuhan kendaraan pribadi di era pandemi ini. Di tengah tren penurunan harga mobil baru karena mendapat insentif pemerintah, pasaran mobil bekas yang turut 'banting harga' pun tetap memiliki peminat sendiri.

Pemilihan ekonomi turut tercermin dari total piutang yang mendapat restrukturisasi dari sebelumnya Rp5,2 triliun tersisa sekitar Rp2 triliun saja pada kuartal III/2021, didorong oleh 86,8 persen nasabah restrukturisasi yang kembali melakukan pembayaran angsuran normal.

Ke depan, BFIN masih berupaya mengejar target mengembalikan porsi pembiayaan baru dan outstanding kelolaan kembali ke sebelum era pandemi. Caranya dengan semakin terbuka untuk calon konsumen baru yang berniat mengambil fasilitas BFIN, asalkan memenuhi kriteria pembiayaan dan catatan kredit di tempat lain tidak bermasalah sesuai data di biro kredit.

"Mobil baru dan bekas masing-masing punya risiko tersendiri. Terpenting, kita menjalankan proses identifikasi dan mitigasi risiko secara benar sejak awal proses pembiayaan," jelas Sudjono.

Terkini, nilai piutang pembiayaan yang dikelola BFIN mencapai Rp13,7 triliun, terbilang stabil sejak posisi Desember 2020. Porsi outstanding terbesar ada di mobil bekas 71,7 persen, disusul dengan alat berat dan mesin 13,7 persen, motor bekas 9,3 persen, dan sisanya pembiayaan property-backed financing (PBF), mobil baru, dan syariah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Editor : Azizah Nur Alfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper