Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bos BSI (BRIS) Beberkan Kunci Pengembangan Ekonomi Syariah

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi menilai perlunya sinergi antara sektor keuangan syariah dengan sektor riil syariah atau industri halal.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 09 Desember 2021  |  12:23 WIB
Tampilan layar menampilkan Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi memberikan sambutan saat menerima anugerah Bisnis Indonesia Award (BIA) 2021 kategori Bank Terbaik di Jakarta, Rabu (15/9/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardani
Tampilan layar menampilkan Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi memberikan sambutan saat menerima anugerah Bisnis Indonesia Award (BIA) 2021 kategori Bank Terbaik di Jakarta, Rabu (15/9/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardani

Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI, Hery Gunardi mengatakan bahwa praktik ekonomi syariah semakin berkembang dari waktu ke waktu, baik di Indonesia maupun di dunia.

Di Indonesia, Hery melihat bahwa perkembangan ekonomi syariah tidak perlu diragukan lagi, salah satunya karena Indonesia memiliki populasi penduduk muslim yang terbesar di dunia.

“Saat ini diperkirakan penduduk muslim Indonesia sekitar 229 juta dan ini merupakan persentase terbesar, yakni 87,2 persen dari total penduduk,” ujar Hery dalam acara virtual bertajuk Perkembangan Industri Halal dan Peran Perbankan Syariah, Kamis (9/12/2021).

Melihat hal itu, BSI memproyeksikan nilai industri halal akan terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Kendati demikian, sudah sepantasnya Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi orang lain, tetapi juga harus berperan agar dapat menjadi pusat produsen halal dunia.

“Di tengah pandemi, tren untuk produk halal terutama food and beverage halal juga sangat diminati karena masyarakat menilai bahwa dengan proses sertifikasi halal itu secara langsung bahwa makanan halal memang lebih hygiene dibandingkan dengan yang tidak disertifikasi. Ini adalah satu peluang buat kita yang ada di Indonesia,” jelasnya.

Hery menuturkan bahwa semua pihak yang terlibat di dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah perlu bersinergi satu sama lain. Sinergi yang paling mudah adalah sinergi antara sektor keuangan syariah dengan sektor riil syariah atau industri halal.

“Kondisi yang terjadi saat ini adalah kurang terkoneksinya antara sektor keuangan syariah tersebut dengan industri halal,” imbuhnya.

Menurut Hery, sektor keuangan syariah, khususnya industri perbankan syariah sudah sepatutnya menjadi roda penggerak dan pendukung utama dari tumbuhnya sektor industri halal. Terlebih, industri perbankan syariah masih menunjukkan kinerja yang sangat baik di tengah pandemi dengan pertumbuhan double digit.

Untuk diketahui, kinerja perbankan syariah baik dari sisi aset, pembiayaan, maupun dari sisi dana pihak ketiga (DPK) masih menunjukan pertumbuhan. Bahkan, selama pandemi pertumbuhan perbankan syariah melebihi dari industri dan mengalami pertumbuhan di atas perbankan konvensional.

BSI mencatat bahwa data per September 2021 menunjukkan bahwa aset industri perbankan syariah tumbuh sebesar 12,24 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Tak hanya aset, pembiayaan juga tumbuh sebesar 7,48 persen, begitu pula dengan DPK yang mengalami pertumbuhan sebesar 9,43 persen.

Di samping itu, Hery mengatakan perlunya kontribusi lebih besar dari sektor keuangan syariah bagi pengembangan industri halal dan menjadi pengingat bagi industri perbankan syariah untuk dapat berperan lebih aktif.

Apalagi, kondisi tersebut semakin disadari oleh BSI pasca merger 3 bank BUMN milik bank BUMN syariah menjadi bank syariah terbesar di Indonesia. “Kami sadar bahwa dengan status ini menjadikan tanggung jawab moral, semakin besar untuk aktif mendukung pengembangan industri halal yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Berbicara mengenai kinerja industri syariah yang cemerlang di Tanah Air, adapun tantangan yang harus dihadapi Indonesia dalam mengembangkan industri halal, yakni munculnya kompetisi antar negara. Di mana, Hery melihat bahwa negara-negara dengan penduduk muslim yang tidak terlalu besar, sudah melihat potensi industri halal cukup besar.

Thailand, misalnya, sudah mulai membangun wisata halal. Kemudian, Korea Selatan yang mulai membangun pusat kosmetik halal. Selain itu, ada pula produsen ataupun eksportir daging sapi, daging burung, dan unggas yang datang dari negara minoritas penduduk muslim, salah satunya Brazil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi syariah keuangan syariah Bank Syariah Indonesia
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top