Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pilih Menabung, Masyarakat Menengah Antisipasi Inflasi

Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada April 2022 mengindikasikan masyarakat dengan penghasilan di atas Rp5 juta lebih memilih untuk menabung dibandingkan untuk berbelanja konsumsi.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 13 Mei 2022  |  06:02 WIB
Ilustrasi menabung - Istimewa
Ilustrasi menabung - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Meningkatnya jumlah masyarakat dengan penghasilan Rp5 juta ke atas yang menyimpan uang dinilai sebagai upaya untuk mengantisipasi inflasi pascalebaran.

Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada April 2022 mengindikasikan masyarakat dengan penghasilan di atas Rp5 juta lebih memilih untuk menabung dibandingkan untuk berbelanja konsumsi atau membayar cicilan pinjaman.

Hal tersebut terlihat dari peningkatan proporsi pengeluaran responden survei secara bulanan, di mana pada April 2022 sebanyak 19,3 persen responden dengan penghasilan di atas Rp5 juta memilih untuk menyimpan uang. Jumlah tersebut tumbuh 3,1 persen dibandingkan dengan Maret 2022 yang berada pada posisi 16,2 persen.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat kelas menengah cenderung mempersiapkan diri menghadapi inflasi khususnya pascalebaran.

“Hal itu membuat disposable income-nya dinaikkan dan disimpan,” kata Bhima, Kamis (12/5/2022).

Bhima mengatakan ketika harga barang kebutuhan pokok dan energi naik, maka sebagian simpanan bisa dikeluarkan. Faktor berikut yang membuat masyarakat kelas menengah lebih menyimpan uang pada April 2022 adalah perihal masalah makin agresifnya kebijakan pajak melalui kenaikan tarif PPN 11 persen, sehingga menurunkan minat untuk berbelanja.

Bhima memperkirakan pada Mei 2022, ada kecenderungan jumlah masyarakat menengah yang menyimpan uang bertambah, khususnya pasca menerima tunjangan hari raya lebaran.

“Mungkin bulan Agustus-September sebagian uang dicairkan untuk memasuki tahun ajaran baru sekolah,” kata Bhima.

Bhima mengatakan secara musiman biasanya pada Agustus-September masyarakat cenderung berbelanja. Tetapi, dengan tren naiknya suku bunga, inflasi global dan wacana kenaikan tarif listrik, bahan bakar minyak dan gas di dalam negeri, kelas menengah yang lebih terpapar informasi sehingga akan lebih hati-hati dalam berbelanja.

“Kondisi diperburuk dengan masalah penyebaran penyakit Hepatitis, dan Penyakit Mulut dan Kuku jelang Iduladha bisa mengubah perilaku kelas menengah juga,” kata Bhima.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia Inflasi survei konsumen
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top