Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tahun 2022, Bank DBS Indonesia Bidik Jumlah AUM Naik Dua Digit

Bank DBS Indonesia menargetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) tumbuh dua digit pada 2022.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 23 Mei 2022  |  23:40 WIB
Ilustrasi - Nasabah sedang antre di ATM DBS Bank - Bloomberg.com
Ilustrasi - Nasabah sedang antre di ATM DBS Bank - Bloomberg.com

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank DBS Indonesia menargetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) tumbuh dua digit pada 2022.

Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia Rudy Tandjung menyampaikan target tersebut terlihat dari dana pihak ketiga (DPK) perseroan yang mengalami pertumbuhan.

Menurutnya, meski saat ini aktivitas wisata sudah terbuka, namun terbatasnya pengeluaran nasabah menjadi peluang untuk menginvestasikan ke AUM.

“AUM kita melihat double business growth dari tahun ke tahun. Jadi kita ekspektasi dan kaji untuk naik double digit tahun ini dari tahun lalu,” kata Rudy di Jakarta, Senin (23/5/2022).

Sejalan dengan hal itu, DBS Treasures Private Client terus mengalami pertumbuhan dan dipercaya sebagai mitra manajemen kekayaan yang hadir memenuhi kebutuhan high net worth individual (HNWI).

Pada 2020 hingga 2025, HNWI di Indonesia diprediksi akan meningkat hingga dua kali lipat, aspirasi mengelola dan melakukan perpindahan kekayaan ke generasi selanjutnya.

“DBS Treasures Private Client mengidentifikasi tren generasi muda HNWI sejak Agustus 2021, yang saat ini mencapai 11 persen dari total nasabah,” ucapnya.

Rudy menyampaikan potensi untuk terus tumbuh masih besar karena studi terhadap market yang dilakukan oleh DBS Treasures Private Client dengan Wunderman Thompson (2021) menunjukkan bahwa saat ini sebanyak 48 persen dari HNWI di Indonesia berusia di bawah 40 tahun.

Data kualitatif Wunderman Thompson di 2021 menunjukkan generasi muda HNWI memiliki karakter yang berbeda-beda.

Pertama, business inheritor atau yang mewarisi bisnis keluarganya.

Kedua, passion pathfinder, yakni mereka yang memiliki usaha atau entrepreneur sesuai passion mereka sehingga berbeda dari bisnis orang tua.

Ketiga, career climber atau mereka yang tetap di jalur profesional sebagai karyawan namun merupakan bagian dari keluarga HNWI.

“Ketiganya menghadapi tekanan parameter kesuksesan generasi sebelumnya serta kebutuhan menjaga dan mengoptimalkan semua yang telah diraih,” tuturnya.

Sementara itu, menurut data Williams Group Wealth Consultant, kekayaan keluarga mengalami penurunan lebih dari 50 persen di generasi berikutnya disebabkan perselisihan keluarga (60 persen), kurangnya persiapan ahli waris (25 persen), dan penyebab lain seperti pajak dan legal (15 persen).

Tekanan ini semakin berat karena hanya 9,8 persen HNWI generasi muda yang memiliki literasi finansial untuk memilah data dan informasi dalam pengambilan keputusan finansial.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dbs dana pihak ketiga nasabah
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top