Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investasi Kripto Masuk 'Musim Dingin', Bos Pinjol Tawarkan Alternatif

Menjadi pemberi pinjaman (lender) di platform fintech P2P lending alias pinjaman online (pinjol) bisa menjadi alternatif diversifikasi investasi, terutama saat saham dan kripto memasuki 'musim dingin' alias berada dalam tekanan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 23 Juni 2022  |  05:31 WIB
Ilustrasi pinjaman online atau pinjol - Freepik.com
Ilustrasi pinjaman online atau pinjol - Freepik.com

Bisnis.com, JAKARTA - Industri teknologi finansial pendanaan bersama (fintech P2P lending) alias pinjaman online (pinjol) berpotensi menjadi alternatif investasi bagi investor disaat pasar saham dan aset kripto sedang mengalami tekanan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan saat perekonomian mengalami tekanan baik di pasar kripto, saham, maupun investasi pasar keuangan lainnya, maka menjadi penyedia dana bagi fintech dapat menjadi alternatif.

"Kebutuhan pinjaman masyarakat lewat industri P2P masih sangat besar, dan AFPI masih meyakini tahun ini kembali ada tren pertumbuhan. Adapun, dari sisi lender, terutama ritel atau perorangan, kami lihat mereka ini cenderung setia, bahkan berpotensi menambah porsi pendanaannya di tengah kondisi sekarang," ujarnya dalam diskusi terbatas bersama beberapa media secara virtual, Rabu (22/6/2022).

Dia mengatakan, dalam industri P2P lending, perusahaan pinjol hanya berperan mempertemukan pemberi pinjaman (lender) dan peminjam (borrower). Imbal hasil yang diterima oleh lender adalah sebesar penilaian platform terhadap profil risiko borrower bukan kondisi pasar seperti di industri keuangan lainnya.

Oleh sebab itu, Kus optimistis bahwa lender perorangan industri P2P lending tidak akan berpaling.

"Segmen peminjam di platform P2P lending, baik yang sektor produktif maupun multiguna, mayoritas butuh cepat dan tenor singkat. Jadi kebanyakan lender sudah paham, memberikan pinjaman di P2P lending itu fase perputaran uang lebih cepat. Sehingga keputusan apakah mau dipakai investasi kembali, atau mau dipakai untuk kebutuhan tertentu bisa jadi lebih fleksibel," tambahnya.

Kus memberikan gambaran, mayoritas fintech P2P lending produktif memberikan layanan bridging loan untuk UMKM, yang kebanyakan kembali dalam 1 bulan, 3 bulan, atau 6 bulan. Adapun, layanan pinjaman modal kerja UMKM yang biasanya memiliki tenor 1-2 tahun, imbal hasilnya pun diberikan secara bulanan, bahkan secara mingguan di platform tertentu.

Adapun, pinjol klaster multiguna yang kebanyakan dimanfaatkan pengguna untuk metode pembayaran bayar tunda alias paylater atau dana tunai cepat, memiliki fase pengembalian pinjaman yang lebih singkat lagi, bahkan bisa hanya dalam hitungan hari.

"Selain itu, beberapa platform P2P lending punya keunikan tersendiri. Misalnya, ada yang fokus hanya ke usaha mikro, pertanian, pendidikan, dan lain-lain. Jadi biasanya lender itu setia dengan platform yang menyasar sektor tertentu sesuai minatnya, kedekatan batinnya, atau punya niat untuk ikut memajukan sektor tersebut," jelas Kus.

Dalam kesempatan terpisah, Certified Financial Planner Anisa Aprilia membenarkan ada potensi investor ritel memperbesar porsi investasinya ke platform fintech P2P lending untuk diversifikasi dalam kondisi saat ini.

"Karena dalam kondisi tertentu, fintech P2P lending itu memang terbilang less risky ketimbang saham atau kripto. Tapi yang harus diingat, masing-masing platform itu berbeda. Pemberi pinjaman harus pintar-pintar memilih platform yang cocok buat diversifikasi," ujarnya ketika ditemui selepas acara bersama platform P2P lending khusus pelaku usaha mikro wanita, PT Amartha Mikro Fintek, Rabu (22/6/2022).

Menurutnya, indikator yang bisa menjadi pertimbangan calon lender dalam memilih platform P2P lending yang tepat, antara lain kinerja tingkat keberhasilan pinjaman 90 hari (TKB90) platform harus berada di atas 90 persen, melihat kondisi borrower yang disasar platform, serta melihat upaya mitigasi risiko yang ditawarkan.

Selain itu, Anisa pun sepakat salah satu faktor lain yang bisa membuat lender betah untuk terus melakukan pendanaan di platform P2P lending, yaitu dampak sosial yang diberikan. Sebab, beberapa platform memiliki fokus melayani segmen UMKM tertentu yang notabene urung tersentuh akses kredit konvensional, seperti pelaku usaha mikro, pertanian, peternakan dan perikanan, atau pegiat jual-beli online.

"Saat ini impact investing sedang dilirik karena investor itu terkadang bukan hanya peduli soal imbal hasil, tapi juga melihat apakah investasinya itu berpengaruh secara sosial," tambahnya.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan per April 2022, saat ini jumlah rekening lender ritel dalam negeri mencapai 143.638 entitas, menyumbang porsi outstanding hingga Rp6,32 triliun dari total outstanding industri senilai Rp38,14 triliun.

Porsi terbesar pemegang outstanding di industri P2P lending masih berasal dari lender institusi perbankan dalam negeri berjumlah 192 bank senilai Rp11,06 triliun. Terbagi 90 bank umum, 7 Bank Pembangunan Daerah (BPD), dan 95 Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fintech pinjol
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top