Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dampak Kenaikkan Suku Bunga Acuan Diprediksi Baru Terasa 2023

Ekonom memprediksi dampak dari kenaikan suku bunga acuan baru terasa pada tahun depan atau 2023.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 10 Agustus 2022  |  19:52 WIB
Dampak Kenaikkan Suku Bunga Acuan Diprediksi Baru Terasa 2023
Ilustrasi suku bunga
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikkan suku bunga acuan diprediksi tidak akan disikapi secara reaktif oleh perbankan. Bank menunggu dan melihat kondisi terlebih dahulu sebelum menaikkan suku bunga simpanan maupun pinjaman.

Jika suku bunga acuan dinaikkan oleh bank sentral tahun ini, diprediksi dampaknya baru akan terasa pada 2023.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede berharap kenaikkan suku bunga Bank Indonesia nantinya tidak akan berdampak signifikan terhadap kredit. Kendati demikian, dia menilai seandainya suku bunga acuan naik, dampaknya tidak akan langsung dirasakan oleh masyarakat pada tahun ini.

Kenaikkan suku bunga kredit, termasuk kredit pemilikan rumah (KPR), kemungkinan akan terimbas pada tahun depan.

“Tetapi kemungkinan pada awal tahun depan akan berpengaruh [terhadap kredit]. Jadi yang harus kita cermati adalah pertumbuhan kredit pada tahun depan karena dampak dari kenaikkan suku bunga akan lebih kelihatan lagi pada tahun depan,” kata Josua dalam Community Event Kini Paham Kredit #3, Rabu (10/8).

Josua menuturkan kenaikkan suku bunga acuan biasanya tidak langsung disikapi secara responsif oleh perbankan. Berdasarkan historis, pada 2013 dan 2018 Bank Indonesia juga sempat menaikkan suku bunga acuan, karena faktor kenaikan inflasi pada 2013 dan pada 2018 pelemahan nilai tukar rupiah.

Pada 2018 saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, perbankan tidak langsung menaikkan suku bunga.

Perbankan memperhitungkan beberapa hal terlebih dahulu, salah satunya posisi likuiditas. Perbankan juga akan mencermati kondisi di lapangan khususnya barang jadi atau consumer goods.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Perbankan dari Binus University Doddy Ariefianto.

Doddy mengatakan jika terdapat kebijakan suku bunga moneter, yang pertama kali naik itu adalah suku bunga simpanan, dengan urutan suku bunga tabungan, giro, kemudian disusul dengan deposito.

Setelah suku bunga deposito dinaikkan oleh bank, terdapat jeda antara 6 bulan - 12 bulan sebelumnya akhirnya bank menaikkan suku bunga kredit.

“Kreditnya itu biasanya kredit konsumsi terlebih dahulu. Kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA), kredit pemilikan rumah (KPR), baru setelah itu kredit modal kerja dan investasi. Transisi ke kredit ini jaraknya cukup lama sekitar 6 bulan - 1 tahun,” kata Dody.

Pada waktu yang berbeda, Direktur PT Bank BCA Syariah Pranata mengatakan berdasarkan diskusi dengan beberapa bankir, diperkirakan suku bunga akan naik dalam waktu dekat. Hal itu dilakukan untuk mencegah arus modal asing ke luar Indonesia (Capital outflow).

Dia juga mengatakan para pelaku industri berharap kenaikkan suku bunga pada kisaran 25 bps - 50 bps.

“Harapannya dari kami karena likuiditas makin ketat, giro wajib minimum (GWM) terus naik, jadi mau tidak mau harus menaikkan suku bunga. Kemungkinan [kenaikkan suku bunga acuan] akhir Agustus atau awal September, tergantung rapat di Bank Indonesia,” kata Pranata.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Suku Bunga suku bunga acuan suku bunga kpr
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top