Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Era Suku Bunga Tinggi, BTN (BBTN) Yakin Minat Kebutuhan KPR Masih Tinggi

Bank spesialis pembiayaan hunian yakni BTN meyakini minat dan kebutuhan KPR masih cukup tinggi, khususnya untuk KPR bersubsidi.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 18 September 2022  |  18:33 WIB
Jelang Era Suku Bunga Tinggi, BTN (BBTN) Yakin Minat Kebutuhan KPR Masih Tinggi
Pekerja sedang menggarap proyek perumahan yang dibiayai oleh BTN. - Bisnis/Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bank spesialis pembiayaan hunian yakni PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) meyakini minat dan kebutuhan Kredit Pemilikan Rumah atau KPR masih cukup tinggi, khususnya untuk KPR bersubsidi.

Sepanjang semester I/2022, bank pelat merah ini menyalurkan kredit sebesar Rp286,15 triliun atau naik 7,61 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Kredit perumahan masih menjadi tulang punggung kinerja perseroan dengan realisasi sebesar Rp251,91 triliun hingga akhir Juni 2022.

Dari jumlah tersebut, penyaluran KPR subsidi pada paruh pertama 2022 masih mendominasi dengan nilai mencapai Rp137,25 triliun atau bertumbuh 8,68 persen yoy. Adapun, KPR non-subsidi naik 5,84 persen yoy menjadi Rp85,305 triliun pada semester I/2022.

Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo mengatakan bahwa permintaan terhadap pembiayaan rumah masih akan terus ada, meski saat ini kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tertekan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan inflasi.

Keyakinan itu berlandaskan data Susenas Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan angka backlog perumahan saat ini mencapai 12,75 juta unit. Kendati demikian, Haru menyatakan seluruh kebutuhan itu tidak dapat langsung terkonversi menjadi permintaan KPR.

“Memang perlu upaya agar permintaan rumah ini besar, dengan memberikan sejumlah insentif seperti penambahan kuota FLPP [fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan] dan dimudahkan proses pembelian rumah,” ujar Haru dalam konferensi pers baru-baru ini.

Haru menambahkan bahwa di tengah tren kenaikan suku bunga dan normalisasi kebijakan giro wajib minimum (GWM), Bank BTN sejauh ini belum menaikkan suku bunga KPR. Namun, tak menutup kemungkinan bunga KPR bakal meningkat ke depan.

Bank BTN sampai saat ini memproyeksikan pertumbuhan kredit mampu tumbuh 9 persen yoy sepanjang 2022. Haru optimistis apabila kondisi ekonomi membaik dan inflasi mampu ditekan, penyaluran kredit tahun depan dapat tumbuh di atas 9 persen.

Sementara itu, Wakil Direktur Bank BTN Nixon LP Napitupulu turut meyakini bahwa penyaluran KPR bersubsidi mampu tumbuh dua kali lipat menjadi sekitar 160.000 unit hingga 170.000 unit hingga akhir 2022.

Menurutnya, saat ini permintaan pembiayaan hunian paling tinggi didominasi segmen menengah atau rumah dengan harga di bawah Rp1 miliar. Nixon juga menyebut prospek untuk rumah tipe 21, 36, dan 45 masih bagus dan tidak mengalami penurunan minat.

Selain itu, kata Nixon, emiten bank bersandi saham BBTN ini akan mendorong kenaikan penyaluran FLPP pada tahun depan. Hal ini seiring dengan rencana penambahan kuota FLPP sebanyak 20.000 unit menjadi 220.000 unit.

“Pelebaran pembiayaan konstruksinya sudah kami lakukan mulai tahun ini sehingga tahun depan absorpsi penambahan 20.000 unit itu dapat diserap dengan baik. Kami melihat, tahun depan masih ada lagi KPR Tapera juga dinaikkan, tidak hanya FLPP,” terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

btn kpr KPR Subsidi perbankan
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top