Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Siap-Siap! Suku Bunga BI Berpotensi Naik hingga 5,25 Persen

Pada Rapat Dewan Gubernur September 2022, BI mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps), atau lebih tinggi dari konsensus ekonom.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 25 September 2022  |  17:40 WIB
Siap-Siap! Suku Bunga BI Berpotensi Naik hingga 5,25 Persen
Petugas melakukan pengisian bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Rabu (29/6/2022). - Antara Foto/Muhammad Adimaja
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut hingga 100 basis poin (bps) pada kuartal IV/2022.

Pada Rapat Dewan Gubernur September 2022, BI mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) ke level 4,25 persen.

Keputusan tersebut sebagai langkah preemptive dan forward looking untuk merespons lonjakan inflasi yang dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM. 

Di samping itu, kenaikan suku bunga acuan juga ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi dan normalisasi suku bunga acuan the Fed di tahun ini yang lebih agresif dari perkiraan sebelumnya.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan bahwa keputusan BI yang melebihi ekspektasi pasar tersebut berpotensi mendukung penguatan rupiah secara terbatas di tengah sentimen kenaikan suku bunga the Fed sebesar 75 bps yang sesuai ekspektasi pasar.

Hingga akhir tahun ini, the Fed diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga hingga ke level 4,5 persen atau lebih dari 100 bps. 

Sejalan dengan itu, Josua memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada rentang 75–100 bps.

“BI juga diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga acuannya hingga level 5–5,25 persen dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang pada akhirnya mendukung kondisi pasar SBN agar tidak makin melemah,” katanya kepada Bisnis, Minggu (25/9/2022).

Josua menilai, di samping kebijakan suku bunga, kebijakan operation twist BI akan membatasi kenaikan tingkat imbal hasil SBN tenor jangka panjang dan pada saat sama akan mendorong daya tarik SBN dengan tenor jangka pendek. 

Lebih lanjut, imbuhnya, dengan upaya pemerintah menjaga defisit APBN 2022 agar lebih rendah dari 4 persen dari PDB dan maksimal 3 persen dari PDB pada 2023, diperkirakan akan mendorong daya tarik mengingat sebagian besar negara lain masih diliputi isu tingginya rasio hutang dan defisit fiskal. 

Dengan perkembangan tersebut, Josua memperkirakan pergerakan yield SBN tenor 10 tahun akan berkisar 7–7,5 persen hingga akhir tahun.

Pada kesempatan berbeda, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan BI akan lebih agresif mengubah kebijakan moneter longgar ke kebijakan yang lebih ketat untuk menjaga stabilitas.

Dari sisi eksternal, the Fed telah memberi sinyal untuk menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin hingga akhir tahun. Kondisi ini akan membatasi aliran portofolio ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Di samping itu, nilai tukar rupiah berpotensi semakin tertekan ke depan.

Sementara itu, dari sisi domestik, tingkat inflasi telah melebihi batas sasaran BI 2—4 persen sejak Juni 2022 dan diperkirakan akan melebihi 6 persen pada 2022. Lonjakan inflasi tersebut disebabkan oleh menguatnya permintaan masyarakat, juga sebagai imbas dari kenaikan harga BBM.

“Secara keseluruhan, kami saat ini memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5 persen hingga akhir 2022 dan naik menjadi 5,25 persen pada 2023,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia suku bunga acuan Inflasi Harga BBM Pertumbuhan Ekonomi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top