EKSPANSI KE MALAYSIA, bank nasional siap-siap buka layanan ATM

 
Sutan Eries Adlin | 08 April 2012 15:03 WIB

 

JAKARTA: Rencana Bank Negara Malaysia dalam merelaksasi aturan mengenai batasan pembukaan cabang dan anjungan tunai mandiri bagi bank asing, disambut dengan keinginan ekspansi oleh sejumlah bank nasional.
 
Salah satu bank nasional yang akan memanfaatkan momentum relaksasi aturan di negeri jiran tersebut adalah PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.
 
“Kami memang mendengar BNM [Bank Negara Malaysia] akan mengeluarkan aturan bahwa kantor cabang bank asing boleh buka ATM di mana saja. Kami akan pakai momentum itu untuk memperkuat layanan kepada nasabah,” ujar Hendiarto, Direktur Keuangan dan Operasional Bank Muamalat, kemarin.
 
Bank Muamalat telah membuka cabang di Malaysia sejak tahun lalu. Cabang di Malaysia itu hanya menghimpun simpanan dan menyalurkan pinjaman dalam bentuk rupiah dan dolar AS dan dilarang mengelola ringgit.
 
Bila aturan relaksasi tersebut jadi diterbitkan, Hendiarto mengatakan perseroan akan membuka ATM baru di sejumlah titik penting di Malaysia, seperti di  bandara.
 
Menurut Handiarto, perseroan bisa saja mengalihkan rencana pembukaan sebagian ATM di dalam negeri untuk dibuka di Malaysia. “Namun jumlahnya kami belum tahu, karena masih menunggu aturan tersebut keluar,” jelasnya.
 
Bank syariah yang dipimpin oleh Arviyan Arifin sebagai Direktur Utama ini, memang memiliki rencana membuka 525 ATM baru di dalam negeri pada tahun ini.
 
Saat ini, bank yang berdiri sejak 1992 tersebut baru memiliki satu kantor cabang dan satu mesin ATM di Malaysia. “Melalui ATM para TKI [Tenaga Kerja Indonesia] di Malaysia tidak perlu melakukan pengiriman uang [remitansi] yang biayanya mahal, cukup melakukan pindah buku saja,” jelasnya.
 
Adapun, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mengaku masih menunggu aturan BNM keluar, sebelum menentukan langkah selanjutnya. “Kita lihat dulu aturan barunya bagaimana,” ujar Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo.
 
Dalam beberapa kali kesempatan, Gatot memperjuangkan peneraparan azas resiprokal, yakni kesamaan pelakukan bagi bank nasional yang ingin buka cabang di luar negeri, layaknya kemudahan yang diberikan oleh Bank Indonesia (BI) bagi asing yang ingin ekspansi ke dalam negeri.
 
Terbentur regulasi
 
Menurut Gatot, bank nasional yang ingin ekspansi ke luar negeri sering menemukan kesulitan dari kebijakan yang dikeluarkan oleh bank sentral negara lain.
 
Salah satu bank yang merasa kesulitan untuk membuka cabang di Malaysia adalah PT Bank Mandiri Tbk. Bank terbesar di Indonesia dari sisi aset ini telah berencana untuk membuka cabang di Malaysia sejak tahun lalu.
 
Budi Gunadi Sadikin, Direktur Bank Mandiri, mengatakan perseroan akan menunggu aturan baru BNM keluar, sebelum melakukan negosasi mengenai besaran modal yang harus disetor oleh perseroan sebagai syarat pembukaan cabang di negeri jiran tersebut.
 
BNM sebelumnya mensyaratkan modal sebesar 300 juta Ringgit Malaysia setara dengan Rp900 miliar rupiah. Namun Bank Mandiri menawar menjadi 100 juta ringgit.
 
Selain Bank Mandiri, saat ini ada empat bank internasional lainnya yang berencana masuk ke Malaysia, yakni BNP Paribas asal Prancis, Sumitomo Mitsui Banking Corporation dan Mizuho Corporate Bank asal Jepang serta National Bank of Abu Dhabi asal Uni Emirat Arab. (sut) 

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top