Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

FINANCIAL PLANNING: Merancang Bujet Keluarga

130101_compact_financial_planning.jpg"The main reason people don't get what they want, is because they don't really know what they want, or how to ask for it. The first step you need to take is that to acknowledge the fact that you have to control
- Bisnis.com 12 Februari 2013  |  16:47 WIB

130101_compact_financial_planning.jpg

"The main reason people don't get what they want, is because they don't really know what they want, or how to ask for it. The first step you need to take is that to acknowledge the fact that you have to control your own finances. If you acknowledge this, half of the battle is already won"

Kebebasan financial menuntut pemenuhan terhadap dua hal.
Pertama, upaya meningkatkan penghasilan minimal untuk memenuhi tiga hal, konsumsi, pembayaran kewajiban dan menabung.

Dan seperti saya tulis pada dua kolom terakhir di rubrik ini, cara paling elegan dalam meningkatkan penghasilan adalah menciptakan nilai tambah! Kita akan kembali lagi pada topik menciptakan nilai tambah ini, berkali-kali, nanti, karena merupakan titik awal paling penting untuk mendapatkan kemerdekaan finansial.

Kedua, pengendalian terhadap pengeluaran. Merancang bujet merupakan upaya konkrit terhadap pengendalian pengeluaran. Penyusuanan bujet harus dimulai dengan merekonstruksikan pengeluaran rill di masa lalu, minimal beberapa bulan paling akhir.

Dari situ kita melakukan analisis tentang pos pengeluaran, mana yang tidak bisa dihindarkan, pos mana yang merupakan pemborosan, mana konsumsi impulsive, lalu menyusun prioritas. Sebaiknya bujet disusun tahunan dan dirinci bulanan, terutama bagi mereka yang berpenghasilan tetap berupa gaji bulanan. Dengan persiapan yang baik, kita bisa mendapatkan gambaran yang realistis tentang kebutuhan bulanan.

Saat ini tersedia banyak sekali program dalam bentuk spread sheet atau semacamnya yang mampu membantu kita mengkalkulasikan angka-angka setelah analisis dan keputusan diambil. Sebagai permulaan, kita cukup menggunakan kertas dan pensil, untuk mencoret-coret rencana bujet kita. Coba simak pos-pos pengeluaran di bawah ini. Bayangkan penegeluaran riil Anda bulan lalu, dan cobalah mengisi angka-angka di dalamnya:

Belanja rutin
o Makan
o Pakaian/laundry
o Transportasi
o Listrik
o Air

Pendidikan/childs care
Rumah
o Pemeliharaan
o Cicilan
o Biaya renovasi
o PBB

Kendaraan
o Pemeliharaan
o Cicilan
o Pajak

Biaya kesehatan, termasuk asuransi kesehatan dan jiwa
Asuransi barang dan jasa
Pajak Penghasilan Pribadi, PPh
Leisure: hobi, wisata, eating out
Biaya sosial: sumbangan, donatur dan karitas lain
Cicilan utang

Penyusunan bujet personal - dalam arti pembuatan angka angka perkiraan - bukanlah persoalan yang rumit. Yang lebih sulit terletak pada kejujuran pada diri sendiri dalam melakukan assessment terhadap kebutuhan pribadi, dan tidak kalah rumitnya adalah displin dan komitemen dalam mermenuhi target yang sudah ditetapkan. Tetap berada di plafon bujet. Disiplin anggaran itu seringkali seperti diet. Bermula dari niat baik, tapi hampir selalu berakhir dengan penyimpangan.

Berikut beberapa tips dalam upaya penyusunan:

*> Tujuan yang jelas. Harus jelas sasaran yang ingin dicapai dengan bujet dan harus pula sejalan dengan tujuan perencanaan keuangan secara keseluruhan.

*> Upayakan membuat bujet yang sederhana. Semakin kompleks suatu bujet, semakin besar kemungkinan penyimpangannya. Dalam hubungan itu, harus ada fkelsibilitas untuk melakukan pergeseran dari pos pengeluaran yang satu ke pos yang lain, untuk mengantisipasi trend yang tak terduga.

*> Pemasukan dan pengeluaran yang terjadi setahun sekali atau yang tidak terduga, sebaiknya disiapkan dalam pos tabungan untuk berjaga-jaga.

*> Lakukan reevaluasi minimal setiap 3 bulan sekali. Pengeluaran dan pemasukan bukan suatu hal yang statis.

Lalu berapa besar penghasilan bulanan yang dapat dialokasikan ke dalam konsumsi agar sesorang berada pada posisi aman secara finansial. Tidak ada angka yang pasti! Kembali kepada kondisi masing-masing orang atau keluarga. Jenkins menyarankan angka 60%. Artinya konsumsi bulanan sebaiknya jangan lebih 60% dari penghasilan bulanan. Sebanyak 40% sisanya harus dialokasikan untuk kebutuhan berjaga-jaga, program pensiun dan tabungan/investasi.

Beberapa pakar menyatakan bahwa mengingat tidak mudah untuk mencari kerja, apabila seorang pegawai mengalami lay off, sebaiknya tersedia tabungan berjaga-jaga sebesar kebutuhan konsumsi 3 bulan.

Jangan lupa bahwa lingkungan Anda hidup sangat menentukan alokasi pengeluaran. Mereka yang hidup di metropolitan seperti Jakarta, akan menghabiskan biaya yang jumlah dan prosentasenya cukup besar untuk kebutuhan perumahan dan transportasi.

Akhirnya tak kalah penting adalah disiplin melaksanakan bujet. Tetap berada dalam koridor plafon. Waspadai hidden cash flows problem. Ingat belanja dengan pembayaran tunai lebih mudah dikontrol ketimbang kartu kredit. Makan terlalu banyak, dapat mengakibatkan serangan jantung. Belanja berlebihan akan membuat kondisi keuangan kita sakit jantung.

Sekali lagi jangan lupa:

*> Figure out exactly how much money you earn.
*> Figure out exactly how you are spending that money.

Perhaps the most important ingredient of a successful personal budget is commitment.

o> Hasan Zein Mahmud adalah Tim Ekselensi dan Staf Pengajar pada KWIK KIAN GIE School of Business.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

anggaran financial planning bujet pendapatan pengeluaran

Sumber : Hasan Zein Mahmud

Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top