Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konsolidasi Perbankan, Antara Realisasi & Basa Basi

Pernyataan itu merujuk pada gagalnya penyatuan dua bank BUMN yakni PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Tabungan Negara Tbk.
Galih Kurniawan
Galih Kurniawan - Bisnis.com 01 September 2014  |  02:02 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—“Sama pemilik saja masih susah [konsolidasi], bagaimana yang lain.”

Meski tak panjang, kalimat yang disampikan Ketua Umum Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono di sela-sela ajang Indonesia Banking Expo 2014 pekan lalu agaknya mengisyaratkan kegundahan.

Pernyataan itu merujuk pada gagalnya penyatuan dua bank BUMN yakni PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Tabungan Negara Tbk.

Faktanya, sejauh ini agenda konsolidasi di industri perbankan yang gencar disuarakan sejumlah kalangan tak sepenuhnya lancar lantaran terbentur sejumlah kendala. Tak heran sejumlah pihak pun mulai pesimistis dengan agenda yang gencar digulirkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu.

Agenda konsolidasi dinilai masih sepotong-sepotong dan belum memiliki kerangka ke depan yang jelas. Agenda itu dipandang belum menjadi konsensus dari pihak-pihak terkait. Indikasinya adalah kemunculan berbagai penolakan dalam sejumlah rencana konsolidasi.

“Sebaiknya susun dulu cetak biru perbankan nasional. Mau punya berapa bank BUMN, BPD, bank asing, bank swasta, apakah konsolidasi memang perlu,” kata Sigit. Dia menilai saat ini wacana konsolidasi belum relevan karena belum ada produk hasil konsensus semacam itu.

Terlepas dari perdebatan perlu tidaknya konsolidasi saat ini, agenda tersebut sejatinya telah masuk dalam Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang digadang-gadang menjadi acuan dalam tatanan perbankan ke depan. Menurut API yang digulirkan sejak 2014, konsolidasi dilakukan dengan mengedepankan pendekatan pasar alias market driven approach.

Adapun tujuan strategis konsolidasi adalah menciptakan industri perbankan berdaya saing tinggi. Agaknya cita-cita itu tak muluk-muluk, karena nyatanya persaingan global bakal semakin intens.

Pada 2015 Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bakal diimplementasikan. Meskipun bagi industri perbankankan baru berlaku pada 2020, namun upaya bersiap diri untuk bersaing dengan bank-bank asing tak mungkin dilakukan dalam waktu singkat karena nyatanya konsolidasi masih terhambat.

Belakangan muncul ide untuk mengawali konsolidasi dari bank-bank BUMN. Pasalnya selain beraset besar, menyatukan bank-bank pelat merah juga dianggap lebih mudah ketimbang bank partikelir. “Bank BUMN harus jadi pionir, menurut saya empat bank itu lebih baik digabung jadi satu,” ujar Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta A. Tony Prasetiantono.

Jika market driven approach menjadi acuan konsolidasi, apa yang dikemukakan Tony rasanya cukup beralasan. Pasalnya dari 119 bank umum yang ada di Indonesia saat ini, empat bank BUMN yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk dan PT Bank Tabungan Negara Tbk tergolong berada di kasta atas.

Tengok saja kinerja bank-bank BUMN itu. Hingga semester I/2014, Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp9,6 triliun, tumbuh 15,6% dibandingkan periode yang sama 2013. Penyaluran kredit oleh Bank Mandiri sepanjang triwulan II/2014 tercatat Rp485,8 triliun atau tumbuh 13,3% dibandingkan peyaluran kredit pada periode yang sama 2013 yang hanya mencapai Rp428,7 triliun.

Kinerja tak kalah dahsyat juga dicatatkan BRI. Pada semester I/2014 BRI mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp11,72 triliun, naik 17,11% year on year. Pertumbuhan kredit BRI pada hingga kuartal II/2014 mencapai 17,19% year on year, dari Rp391,77 triliun pada triwulan II/2013 lalu menjadi Rp459,13 triliun.

Adapun BNI hingga triwulan II/2014 membukukan laba bersih Rp4,94 triliun, tumbuh 15,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang tercatat Rp4,28 triliun. Dari empat bank BUMN, hanya BTN yang mencatatkan kinerja tak memuaskan. Laba BTN pada semester I/2014 turun 19,98% menjadi Rp539 miliar. Hal itu diklaim akibat dari tingginya biaya dana yang mereka tanggung.

“Perlu ada bank yang kuat yang bisa bersaing secara global, sekarang dari segi aset Bank Mandiri yang terbesar di Indonesia, tapi kita tidak bisa lihat ke belakang,” kata Tony.

Hal senada juga dikemukakan Global Markets Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede. Dia menilai waktu 5 tahun sebelum implementasi MEA harus dimanfaatkan dengan baik khususnya untuk memicu konsolidasi. Menurutnya paket insentif berupa keringanan pajak dan secondary reserve harus diberikan jika ingin mendorong konsolidasi bank swasta.

Dia mengatakan sejauh ini bank-bank di Indonesia masih belum siap untuk bersaing secara regional. Josua bahkan menilai Indonesia perlu mengajukan pengunduran jadwal implementasi MEA di sektor perbankan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad dalam sejumlah kesempatan mengatakan agenda konsolidasi akan terus dilakukan. “Struktur perbankan nasional sangat terkonsentrasi, 16 bank kuasai 70% aset,” ujarnya. Menurutnya tantangan perbankan saat ini berbeda dengan awal 2000-an sehingga diperlukan pergeseran fokus dan perubahan paradigma.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

konsolidasi bank
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top