Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konsolidasi Perbankan, Nggak Usah Utak-Atik Bank yang Sudah Besar

"Ga usah utak atik bank yang sudah besar." Gatot M Suwondo, Direktur Utama BNI. Kalimat itu dilontarkan Gatot kepada para jurnalis sebagai kesimpulan dari penjelasan panjang terkait diskursus konsolidasi perbankan. Pada kesempatan itu, jajaran direksi BNI tidak hanya kompak mengenakan batik, mereka juga satu suara menilai konsolidasi.
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 06 November 2014  |  20:15 WIB
Bus Wisata Jakarta melintas di Bundaran Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (24 - 2).
Bus Wisata Jakarta melintas di Bundaran Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (24 - 2).

"Ga usah utak atik bank yang sudah besar." Gatot M Suwondo, Direktur Utama BNI.

 

Kalimat itu dilontarkan Gatot kepada para jurnalis sebagai kesimpulan dari penjelasan panjang terkait diskursus konsolidasi perbankan. Pada kesempatan itu, jajaran direksi BNI tidak hanya kompak mengenakan batik, mereka juga satu suara menilai konsolidasi.

 

Tidak seperti biasanya, di mana BNI lebih mengarahkan pertanyaan konsolidasi kepada asas resiprokal, kali ini kali ini jajaran Direksi secara gamblang menuturkan konsolidasi bukan suatu yang baik apalagi mendesak.

 

Dimulai dari Gatot M Suwondo, Direktur Utama BNI, yang mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membedakan dua jenis konsolidasi yakni konsolidasi institusi dalam artian merger atau akuisisi dan konsolidasi strategis dalam arti penetapan pembagian kerja untuk penyaluran kredit.

 

"Yang dimaksudkan OJK [untuk bank BUMN] ialah konsolidasi strategis. Merger atau akuisisi hanya bisa dilakukan ketika krisis. Dalam situasi ekonomi yang tumbuh baik dan fundamental yang kuat, saya tidak melihat merger perbankan BUMN sebagai suatu yang baik," ucapnya di Jakarta, Kamis (30/10).

 

Untuk konsolidasi strategis itu, BNI telah memposisikan diri sebagai bank yang fokus pada dua sektor utama yakni bisnis banking; dan konsumer dan ritel. Fokus pada pembiayaan 8 sektor industri diklaim menjadi partisipasi BNI untuk pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk segmen mikro, BNI mempercayakan kepada BNI Syariah.

 

Gatot mengklaim, BNI merupakan holding besar dari 4 anak usaha yang semuanya bergerak di sektor keuangan. Sebagai holding BNI telah memperkuat modal dengan melakukan right issue pada 2010 sehingga sebagai Bank, Gatot mengklaim, BNI siap bersaing.

 

Dia mengatakan BNI juga terus memperkuat bisnis luar negeri sehingga perkara persaingan di pasar regional bukan menjadi masalah bagi perseroan. Adapun, saat ini BNI telah memiliki 5 kantor cabang luar negeri yang tersebar di Singapura, Hong Kong, Tokyo, London, dan New York.

 

Untuk anak usaha, Gatot berpendapat belum siap bersaing sehingga perseroan terus berbenah dengan mengandeng beberap mitra strategis guna memperkuat modal anak usaha.

 

Persiapan itu sudah dilakukan dengan melepas 25% saham BNI Securities pada 2011 seharga US$13 juta, melepas 20% saham BNI Life kepada Sumitomo tahun 2013 seharga Rp4,2 triliun, dan menambah modal BNI Syariah sebesar Rp500 miliar sehingga modal anak usaha Syariah mencapai Rp1,9 triliun.

 

"Semua dana itu untuk memperkuat modal anak usaha. BNI Syariah sudah banyak yang lirik, banyak yang tertarik tapi bukan sekarang mungkin 1 atau 2 tahun lagi," paparnya.

 

Gatot yang sekaligus ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mengatakan yang lebih urgen dipikirkan ialah konsolidasi bank BUKU I dan II yang memiliki modal terbatas. Sebaliknya, Bank BUKU 3 dan 4, ujar Gatot, umumnya telah siap bersaing pada MEA 2020 nanti.

 

"Ga usah utak atik bank yang sudah besar," tegasnya.

 

Direktur BNI Yap Tjay Soen berpendapat memperkuat pemain lokal bakal menjadi kunci menghadapi persaingan pasar bebas industri keuangan Asean. Pasalnya, para pemain global saat ini sudah mulai kewalahan bersaing dengan perbankan lokal yang umumnya kuat.

 

“Beberapa tahun lalu beberapa bank asing nampak kuat, sekarang saya kira Bank BUMN yang memimpin karena sudah belajar dari pengalaman masa lalu,” jelasnya.

 

Setali tiga uang, Wakil Direktur Utama BNI Felia Salim berpendapat konsolidasi dengan maksud mengurangi jumlah bank dari 119 menjadi 118 tidak akan berdampak signifikan untuk mengurangi jumlah bank.

 

Menurutnya, dengan jumlah bank mencapai 119 bank, jumlah rekening masyarakat indonesia hanya sekitar 75 juta dari total 250 juta penduduk. "Artinya inklusi finansial menjadi penting," jelasnya.

 

Felia juga menolak alasan konsolidasi dengan maksud menciptakan efisiensi. Menurutnya, efisiensi hanya lahir dari kompetisi bukan dari konsolidasi. “Jika tujuannya supaya lebih efisien juga keliru karena efisiensi lahir dari kompetisi,” tegasnya.

 

Adapun, wacana konsolidasi bank BUMN mulai menjadi bola panas pada tengah tahun kemarin. Kala itu Menteri BUMN, Dahlan Iskan mendorong agar Bank Mandiri mangakuisisi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BTN) dengan tujuan memperkuat modal supaya dapat bersaing dengan bank asing yang memiliki modal jumbo.

 

Diskursus kemudian bergeser dengan wacana merger antara BNI dan Bank Mandiri. Diskursus itu kemudian menjadi dingin karana pihak istana meminta untuk berhenti membahas. Akhirnya, konsolidasi perbankan BUMN menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah baru.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

konsolidasi bank
Editor : News Editor

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top