Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Andalkan Ekspansi Untuk Tekan NPL

Beberapa bankir mengandalkan ekspansi kredit untuk menekan turun rasio kredit bermasalah hingga akhir tahun nanti.
Destyananda Helen
Destyananda Helen - Bisnis.com 10 Juni 2015  |  15:47 WIB
BTN
BTN

Bisnis.com, JAKARTA—Beberapa bankir mengandalkan ekspansi kredit untuk menekan turun rasio kredit bermasalah hingga akhir tahun nanti.

PT Bank DKI misalnya. Sepanjang 3 bulan pertama tahun ini, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL gross) perseroan naik 216 basis poin (bps) secara year on year (y-o-y) dari 2,65% pada Maret 2014 menjadi 4,81%.

Direktur Utama Bank DKI Eko Budiwiyono mengatakan peningkatan NPL tersebut disumbang perlambatan ekonomi serta penurunan harga komoditas. Eko merinci, korporasi dan komersial menjadi 2 segmen utama yang mengalami peningkatan NPL terbesar.

Hingga akhir tahun nanti, Eko membidik rasio kredit bermasalah tersebut bisa turun ke posisi setara atau di bawah 2%. Untuk mencapai target tersebut, lanjut Eko, pihaknya telah menyiapkan 2 strategi.

“Ada 2 arah yang kami lakukan, kami pasti akan menyelesaikan NPL yang sekarang masih ada dan kami melakukan ekspansi. Kalau kami tidak ekspansi, pasti rasionya juga meningkat,” jelas Eko di Jakarta, Senin (8/6).

Eko menyebutkan, di sisa tahun ini, perseroan akan melakukan ekspansi kredit di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), multiguna, dan kredit pemilikan rumah (KPR). Bank DKI juga disebutkan akan menyalurkan pinjaman ke sektor yang dijamin pemerintah.

Adapun, untuk menyelesaikan NPL yang ada, bank yang 99,97% sahamnya dimiliki Pemda DKI Jakarta tersebut juga telah membentuk tim task force. Tim ini, jelas Eko, melakukan perbaikan NPL di antaranya melalui restrukturisasi, rekondisi, penyelamatan, dan eksekusi.

Senada, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. juga giat berekspansi untuk menekan NPL gross perseroan dari posisi 4,78% pada Maret 2015 menjadi di bawah posisi 3% pada akhir tahun nanti.

Direktur Utama Bank BTN Maryono menuturkan penyumbang terbesar NPL di perseroan yakni dari segmen komersial non-perumahan. Kendati demikian, lanjut dia, dengan adanya program satu juta rumah yang diinisiasi pemerintah bakal menggenjot penyaluran kredit perseroan dan berdampak pada penurunan NPL. “Dengan ekspansi tersebut otomatis akan menurunkan NPL,” ujar Maryono.

Adapun, sepanjang kuartal I/2015, emiten berkode saham BBTN ini telah menyalurkan kredit senilai Rp120,15 triliun atau naik 17% y-o-y. Hingga akhir tahun nanti, Maryono optimistis perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 20% y-o-y.

Dari data Statistik Perbankan Indonesia yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan hingga Maret 2015, kalangan bank umum tercatat telah menyalurkan kredit senilai Rp3.679,87 triliun atau tumbuh 11,27% secara year on year (y-o-y). Di sisi lain, rasio kredit bermasalah perbankan nasional naik lebih tinggi yakni sebesar 33,78% y-o-y menjadi Rp88,4 triliun.

SPI merekam, NPL kalangan bank umum pada Maret 2015 berada di posisi 2,4% atau naik dari 1,99% di bulan yang sama tahun sebelumnya. Adapun, kredit investasi menjadi penyumbang terbesar kenaikan NPL dengan peningkatan sebesar 56,93% y-o-y. Sementara itu, kredit modal kerja dan konsumsi masing-masing mencatatkan kenaikan NPL sebesar 29,71% dan 19,16% y-o-y.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

npl
Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top