Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BPJS Kesehatan Berlaku, Premi Perusahaan Asuransi Swasta Tergerus 50%

Perusahaan asuransi jiwa komersial mengalami penggerusan bisnis ataupun premi setelah diberlakukannya Jaminan Kesehatan Kesehatan Nasional (JKN) yang digulirkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Abdalah Gifar
Abdalah Gifar - Bisnis.com 06 Agustus 2015  |  18:24 WIB
BPJS Kesehatan Berlaku, Premi Perusahaan Asuransi Swasta Tergerus 50%
Ilustrasi-BPJS Kesehatan - Jibiphoto

Bisnis.com, BANDUNG - Perusahaan asuransi jiwa komersial mengalami penggerusan bisnis ataupun premi setelah diberlakukannya Jaminan Kesehatan Kesehatan Nasional (JKN) yang digulirkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Direktur Operasional Equity Life Indonesia David Soetadi menyatakan perseroannya terus berupaya mencari celah pasar di luar segmen BPJS Kesehatan, yang meski telah ada kesepakatan coordination of benefit (COB) tetapi dalam kenyataannya perusahaan asuransi komersial tetap terkena imbas.

Keberadaan BPJS Kesehatan, diakui David, cukup menekan pertumbuhan bisnis perseroan, baik dari sisi jumlah customer maupun premi menjadi menurun hampir mencapai 50%. “Ada yang grup [kolektif], ada yang individu. Dari grup atau korporasi itu sekitar hampir 30%-40%.”

Menurutnya, pihak perusahaan enggan membayar premi double bagi karyawannya, yakni untuk iuran kepada BPJS Kesehatan dan perusahaan asuransi komersial. “Jadi mereka berhenti meneruskan kontrak dengan kami.”

Namun, dia berkeyakinan untuk segmen atas peluangnya masih terbuka, termasuk untuk mass market dari asuransi mikro yang mungkin kurang mendapat kenyamanan dari pelayanan BPJS Kesehatan.

“Kebanyakan segmen BPJS Kesehatan ini mengarah market ke bawah, Kalau levelnya ke atas belum comfortable dengan prosedur di BPJS Kesehatan. Biasanya mereka tetap menggunakan asuransi komersial,” sebutnya.

Dia samping itu, sebagaimana dialami pelaku industri lain dari berbagai sektor, perseroannya harus menghadapi perlambatan ekonomi sehingga masyarakat menahan konsumsi ataupun pengeluaran di luar kebutuhan pokok.

Target premi perseroan pada tahun ini mencapai sekitar Rp700 miliar, atau ditargetkan tumbuh sekitar Rp15% dari realisasi tahun lalu. Sementara jumlah customer mencapai sekitar 750.000 nasabah per Juni 2015.

“Jujur kami juga agak syok juga karena semua industri slow down. Di luar ekspektasi karena waktu itu di awal [Presiden] Jokowi naik, semuanya optimistis, tetapi di luar prediksi semua,” ujar David.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpjs kesehatan jaminan kesehatan nasional
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top