Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar Menguat, Ini Saran ADB Untuk Negara-negara Asia

Asian Development Bank (ADB) menyarankan otoritas kebijakan keuangan di kawasan Asia berkembang perlu mencari keseimbangan antara upaya menstabilkan sektor keuangan dan langkah mendorong permintaan domestik.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 22 September 2015  |  19:00 WIB
Dolar Menguat, Ini Saran ADB Untuk Negara-negara Asia
ADB
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA - Asian Development Bank (ADB) menyarankan otoritas kebijakan keuangan di kawasan Asia berkembang mencari keseimbangan antara upaya menstabilkan sektor keuangan dan langkah mendorong permintaan domestik.
 
Hal itu sebagai upaya untuk mengatasi dampak kenaikan suku bunga Amerika Serikat atau Fed Fund Rate,
 
Direktur ADB untuk Indonesia Steven Tabor mengatakan langkah lanjutan guna membangun pasar keuangan dalam negeri yang likuid dan berkembang dengan baik, dapat membantu mengurangi ketergantungan sektor swasta terhadap pinjaman dalam mata uang asing.
 
"Penguatan dolar AS menjadi ancaman bagi perusahaan asia yang memiliki paparan besar terhadap mata uang asing. Data menunjukkan bahwa porsi utang dalam mata uang asing di antara berbagai perusahaan Indonesia, Vietnam dan Srilanka mencapai lebih dari 65%," ujarnya di Hotel Intercontinental Jakarta, Selasa (22/9/2015).
 
Harga komoditas di dunia yang turut melemah termasuk minyak dan pangan, menyebabkan rendahnya tekanan harga dengan inflasi regional yang diproyeksikan menurun ke 2,3% pada 2015 dari sebelumnya 3,0% pada 2014, meskipun peningkatan inflasi diperkirakan akan terjadi pada 2016.
 
"Menurunnya minat China terhadap energi, logam, dan komoditas lainnya, serta lemahnya harga komoditas dunia menimbulkan kekhawatiran bagi sejumlah negara di kawasan Asia yang sedang berkembanh yang perekonomiannya berfokus pada ekspor komoditas termasuk Indonesia, Mongolia, Azerbaijan, dan Kazakhstan," katanya.
 
Steven menambahkan arus modal keluar netto dari pasar kawasan Asia berkembang meningkat dengan cepat pada paruh pertama 2015, melebihi US$125 miliar.
 
"Arus modal keluar ini karena perhatian investor sebagai antisipasi naiknya suku bunga AS tak lama lagi. Konsekuensinya, premium bagi risiko bagi kawasan Asia terus meningkat dan nilai tukar mata uang terus melemah sehingga menghambat momentum pertumbuhan," tuturnya.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar as
Editor : Bastanul Siregar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top