Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bank Nagari Kaji Pemisahan Unit Syariah

Manajemen Bank Nagari alias PT BPD Sumatra Barat tengah menyiapkan rencana spin off atau pemisahan unit usaha syariah (UUS), termasuk mengkaji kemungkinan mengubah diri menjadi bank syariah.
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, PADANG—Manajemen Bank Nagari alias PT BPD Sumatra Barat tengah menyiapkan rencana spin off atau pemisahan unit usaha syariah (UUS), termasuk mengkaji kemungkinan mengubah diri menjadi bank syariah.

Direktur Utama Bank Nagari Suryadi Asmi menuturkan manajemen tengah menyiapkan roadmap pengembangan bank milik pemda Sumatra Barat itu, dengan opsi spin off unit syariah atau mengubah model bisnis menjadi bank syariah.

“Keduanya memungkinan dilakukan, tergantung pemegang saham. Kalau unit syariah, OJK sudah wanti-wanti harus misah dari induknya paling lambat 2023,” katanya.

Meski begitu, Suryadi menegaskan keputusan spin off unit syariah atau mengubah perseroan menjadi bank syariah tergantung kebijakan pemegang saham. Manajemen, imbuhnya, hanya mengkaji potensi kedua pilihan untuk pengembangan bank di masa depan.

Adapun, untuk memisahkan diri dari bank induk, OJK mematok UUS harus memiliki modal minimal Rp500 miliar.

Sementara itu, modal unit syariah Bank Nagari baru berkisar Rp100 miliar lebih, sehingga masih dibutuhkan waktu lama untuk spin off, kecuali pemegang saham bersedia mengucurkan tambahan modal dalam jumlah besar.

Suryadi mengungkapkan perseroan tengah mengupayakan tambahan modal dari pemegang saham untuk menguatkan permodalan bank termasuk unit syariah dengan kebutuhan Rp400 miliar tahun ini.

“Target kami pemegang saham bisa salurkan minimal 80% dari total kebutuhan dana RP400 miliar. Tahun lalu realiasisanya 75%,” katanya.

Direktur Pemasaran dan Syariah Bank Nagari Indra Wediana memaparkan kinerja UUS Bank Nagari tahun lalu mencatatkan pertumbuhan di kisaran 13% dengan peningkatan aset menjadi Rp1,30 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,15 triliun.

Kinerja pembiayaan hanya tumbuh 7,5%, dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh  20% dengan pertumbuhan laba mencapai 30% atau berkisar Rp60 miliar. Rasio pembiayaan bermasalah UUS hanya sebesar 1,2%.

“Kinerja syariah cukup menjanjikan walaupun sedikit tidak optimal tahun lalu, karena tekanan ekonomi. Perkiraan kami ke depan akan lebih bagus,” katanya kepada Bisnis, Selasa (12/1/2016).

Dia menyebutkan perseroan tengah mendorong penguatan modal unit syariah sebelum melakukan pemisahan dari bank induk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Heri Faisal

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper