BTN dan BCA Prediksi NPL Kuartal II Hingga Akhir Tahun Membaik

Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Handayani memprediksi kualitas kredit pada kuartal II/2017 akan semakin membaik.
Ropesta Sitorus | 17 Mei 2017 08:18 WIB
Layanan nasabah di kantor PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Handayani memprediksi kualitas kredit pada kuartal II/2017 akan semakin membaik.

Hal tersebut tampak dari kondisi rasio kredit bermasalah, khususnya untuk kredit pemilikan rumah (KPR), pada April lalu yang menunjukkan penurunan.

“Di kuartal 2 akan cenderung membaik. Sekarang NPL untuk yang kategori KPR subsidi itu di bawah satu dan untuk yang non subsidized itu di kisaran 2,2% (gross),” katanya di Jakarta, Selasa (16/5/2017).

Sampai kuartal I/2017, rasio NPL “gross” emiten berkode BBTN tersebut masih cukup tinggi yakni di level 3,34% dari total kredit sebesar Rp169,6 triliun.

Adapun, sepanjang tahun lalu, NPL net BTN membaik menjadi 1,85% dari posisi 2,11% pada 2015 akibat penurunan rasio NPL pada kredit perumahan (konstruksi) dan juga kredit non-housing.

Menurut Handayani, penurunan rasio NPL pada kuartal ini merupakan dampak strategi komprehensif yang telah dilakukan perseroan terhadap eksisting kredit yang buruk, seperti aksi restrukturisasi, penagihan dan penjualan aset bermasalah.

Di luar itu, BTN juga mengedepankan kehati-hatian dalam pemberian kredit. “Karena kemarin kami telah menyelesaikan beberapa kredit bermasalah yang belum dibereskan,” tuturnya.

Selain BTN, optimisme perbaikan kualitas kredit juga disampaikan PT Bank Central Asia Tbk. (BCA). Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan pada kuartal I/2017, NPL perseroan memang sempat meningkat.

Rasio NPL gross BCA sampai akhir Maret tercatat di level 1,5% meningkat secara dari posisi 1,1% pada Maret 2016 (yoy) maupun dari posisi Desember 2016 di level 1,3% (ytd).

Jahja menyatakan kualitas kredit pada tiga bulan pertama memang sempat memburuk karena adanya pergeseran dari kategori kolektabilitas 2 atau perlu mendapat perhatian khusus (special mention) ke kategori bermasalah (3-5) yang dipicu sektor usaha pertambangan.

Kendati begitu, menurutnya, NPL tidak akan menjadi ancaman pada tahun ini. “Kalau NPL memang proyeksi kami 1,5% - 2%, tetapi diharapkan tidak sampai 2% hingga akhir tahun. Tindakannya macam-macam, seperti restrukturisasi hingga write off, itu juga bisa mengurangi NPL,” katanya beberapa waktu lalu. 

Tag : npl
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top