Saya Ingin Ciptakan Sejarah Bagi Diri Sendiri

Bisnis.com, Jakarta - Pigura ukuran dua meter itu disandarkan di dinding dalam posisi yang dapat langsung mencuri perhatian. Isinya puluhan cap telapak tangan dengan warna pelangi. Di bagian tengahnya, tertulis dalam huruf kapital: "Commitment SME 2014 CIMB Niaga".
MediaDigital | 20 November 2017 00:15 WIB
Sukarman Omar

Bisnis.com, Jakarta -Pigura ukuran dua meter itu disandarkan di dinding dalam posisi yang dapat langsung mencuri perhatian. Isinya puluhan cap telapak tangan dengan warna pelangi. Di bagian tengahnya, tertulis dalam huruf kapital: "Commitment SME 2014 CIMB Niaga". 

"Itu sebagai bentuk komitmen dari tim saya untuk bersama-sama merealisasikan target yang kami tetapkan saat Small Medium Enterprise (SME) Clinic," kata tuan rumah, Sukarman Omar, saat ditemui di ruang kerjanya di Graha CIMB Niaga, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Omar, sapaan akrabnya, memang "baru" bergabung ke CIMB Niaga pada awal 2014. Namun dalam waktu yang singkat itu, dia telah membawa banyak perubahan positif dalam kapasitasnya sebagai Chief of Micro and SME Banking CIMB Niaga. 

Tiga tahun lalu, rata-rata booking kredit di segmen SME hanya Rp200 miliar per bulan. Setahun terakhir, nilainya mencapai Rp1 triliun per bulan. Per September 2017, total kredit bruto CIMB Niaga mencapai Rp178,80 triliun. Dari jumlah itu, kontribusi segmen SME mencapai Rp26,87 triliun, naik 14,5% (year on year/yoy).

Keberhasilan tersebut diraih berkat konsistensinya bersama tim memegang teguh target yang ditetapkan dengan tagline 'One team, one goal, one trillion'

"Saya ingin menciptakan sejarah bagi diri saya. Kenaikan produktivitas lima kali lipat itu adalah sejarah pertama yang sudah saya buat untuk diri sendiri," katanya. 

Dalam karirnya yang telah lebih dari 32 tahun sebagai bankir, ada dua motto singkat yang dipegang, be perfectionist terhadap diri sendiri bukan orang lain; serta be optimistic

Dia beberapa kali membukukan kinerja yang melebihi ekspektasi pertumbuhan perusahaan.  “Saya pikir, kita harus perfectionist kepada diri sendiri dan berikan yang paling maksimal dalam apapun yang dikerjakan. Kalau diminta tumbuh 10%, berikan 15%; kalau diminta 10 hari, selesaikan dalam 5 hari,” tegasnya.

Mundur tiga tahun ke belakang, di masa awal bergabung dengan CIMB Niaga, dia hanya punya tim inti tiga orang serta 100 tenaga penjual. Selain tim yang kecil, bisnis SME saat itu pun tidak fokus dan digabung ke segmen komersial.

"Walau kondisinya begitu, saya sangat optimis karena merasa bank ini potensial dengan kantor cabangnya yang mencapai 600-an dan nasabah sekian juta. Kalau dari jumlah tersebut ada yang direferensikan menjadi nasabah SME, tiap bulan kami mengantongi nasabah baru."

Bisnis SME yang memiliki prospek yang besar menjadi rebutan tiap bank, termasuk CIMB Niaga yang kini tercatat sebagai bank BUKU 4 (kategori bank tertinggi dari sisi modal inti/Tier-1) di Indonesia. Agar bisa menang, perlu strategi dan diferensiasi. Menurut Omar, kunci keberhasilannya adalah infrastruktur yang mumpuni, terdiri dari tiga hal yakni peopleproduct and price serta process

Sumber daya manusia, terutama tenaga penjual sebagai ujung tombak, harus diperkuat, dari segi kapasitas dan kemampuan. Saat ini team force bisnis SME di CIMB Niaga hampir 90% dari total tim yang ada.  

Lalu, pengemasan produk dan program juga perlu dilakukan dengan menarik. Terakhir, diferensiasi dari segi proses. Dua tahun terakhir CIMB Niaga menciptakan program lending retail yang menitik beratkan pada nasabah SME ritel. 

"Next, infrastruktur yang mesti disiapkan dari segi post-disbursement untuk memonitor nasabah setelah pencairan kredit, serta dari segi asset quality untuk mempercepat penyelesaian kredit yang tidak sehat. Kalau mau bagus, infrastrukturnya mesti benar."

 

Strategi tersebut dilakukan sejalan dengan brand promise CIMB Niaga “Forward”, di mana perseroan selalu mendukung nasabah berkembang di berbagai aspek dan dalam setiap jenjang kehidupan untuk terus maju mencapai impian dan aspirasinya.

Meskipun terkesan serius dan berorientasi target, hidup Omar tak melulu berkutat pada kehidupan kantor. Dia  juga masih berusaha membagi waktu dengan keluarga dan sesama, khususnya pada akhir pekan.

“Sabtu dan Minggu, saya bersama keluarga. Kami jalan bareng, ke mall, makan bersama, serta melakukan aktivitas sosial  seperti ke panti asuhan atau panti jompo,” ujarnya.

Di pundak ayah dua anak ini ada beban yang besar untuk membawa bisnis SME menjadi salah satu mesin utama pendapatan CIMB Niaga di masa depan. Dia optimis harapan itu akan dapat terealisasi. Apalagi, dalam 5-10 tahun lagi, Omar masih ingin menciptakan sejarah-sejarah lain bagi dirinya sendiri, yang juga akan berdampak positif bagi perusahaan.  

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cimbniaga

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top