Kredit Perumahan dan Hotel Gerus Laba Bank Ini

Walaupun pembiayaan sektor properti yang masuk dalam kredit konsumer hanya 5% secara portofolio kredit perseroan secara keseluruhan, tahun depan kami masih akan hold dulu, karena masih bubble
Andry Winanto | 17 Desember 2017 22:23 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Mayora mensinyalir penyaluran kredit pada sektor properti, khususnya perumahan dan hotel menjadi biang tergerusnya laba perseroan.

Presiden Direktur Bank Mayora Irfanto Oeij menyebut, selain menjadi penyebab utama dari penurunan perolehan cuan, penambahan dana cadangan penurunan kerugian nilai (CKPN) juga memberi andil yang cukup besar.

“Walaupun pembiayaan sektor properti yang masuk dalam kredit konsumer hanya 5% secara portofolio kredit perseroan secara keseluruhan, tahun depan kami masih akan hold dulu, karena masih bubble,” ujarnya saat ditemui di Bogor, Jumat (15/12/2017).

Selain itu, lanjut Irfanto, fasilitas lending yang tidak tumbuh signifikan dari awal tahun, kredit nasabah banyak yang di take over, dan tingginya angka kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) menjadi penyebab lain berkurangnya perolehan laba tahun ini.

Khusus untuk undisbursed loan, Irfanto mengungkapkan nasabahnya saat ini cenderun mengambil sikap berhati-hati  dalam menggunakan dananya.

“Misalnya, jika plafon kreditnya Rp5 triliun, 5% saja tidak digunakan maka angkanya sudah mencapai Rp250 miliar. Jumlah tersebut cukup besar untuk bank kecil seperti kami,” ucapnya.

Sebagai informasi, hingga kuartal III/2017, Bank Mayora membukukan laba bersih sebesar Rp24,15 miliar. Capaian tersebut lebih kecil dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp41,47 miliar.

Dari sisi penyaluran kredit, perseroan mencatatkan kenaikan 4,85% menjadi Rp3,54 triliun dari sebelumnya Rp3,37 triliun. Adapun, total aset pada triwulan ketiga 2017 tumbuh 4,88% menjadi Rp5,62 triliun dari posisi akhir 2016 sebesar Rp5,35 triliun.

Sementara, NPLgross hingga kuartal III/2017 berada pada level 3,02%, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,83%.

Untuk itu, guna menjaga bisnis bank tetap berada pada jalur positif, perseroan lebih mengutamakan pembiayaan kepada debitur yang masih tergabung dalam Grup Mayora.

“Jadi istilahnya untuk yang disektor customer goods kami masih main di situ,” tuturnya.

Secara porsi, Bank Mayora menyalurkan kredit sektor ritel sebesar 35%, komersil 50%, dan konsumer sebesar 15%.

“Daerah persebaran kredit kami mencakup wilayah Jabotabek yang paling dominan, Surabaya, Lampung, serta Bandung,” ujarnya.

Rencana Bisnis 2018

Sinyalemen kinerja 2017 yang kurang memuaskan melecut jajaran manajemen untuk mengambil langkah objektif pada tahun depan.

Sejumlah target dipasang untuk mengoptimalkan bisnis bank pada tahun anjing bumi. Salah satunya adalah dengan menggandeng salah satu entitas yang memberikan layanan teknologi finansial (finansial technology/fintech).

Beberapa waktu lalu kami bertemu dengan perusahaan fintech, mereka mau peer-to-peer, kemudian kami ditawarkan mau tidak kasih lending lewat digital. Terus terang kami menyambut baik rencana kolaborasi tersebut,” tutur Irfanto.

Namun, hingga kini Irfanto mengaku masih terus mengkaji bentuk kerja sama yang akan dilakukan oleh perseroan dengan fintech tersebut.

Terbaru, Bank Mayora tengah mengembangkan pelayanan kepada nasabah dengan merintis penggunaan mobile banking dan internet banking.

Dalam mewujudkan hal tersebut, manajemen telah mengajukan perizinan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa dirilis,” katanya.

Penambahan layanan perbankan secara digital tersebut bertujuan sebagai perluasan bisnis bank sesuai dengan kategori bank BUKU II.

Dari sisi kinerja, Bank Mayora menargetkan 2018 dengan pertumbuhan kredit sebesar 14%, loan to funding ratio (LFR) 83%-85%, CAR 27% dengan modal inti saat ini Rp1,1 triliun.

Tag : kredit properti, bank mayora
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top