Bank Ina Perdana (BINA) Targetkan Pertumbuhan Kredit 15%

PT Bank Ina Perdana Tbk. menargetkan penyaluran kredit tahun ini akan mencapai Rp1,72 triliun, atau tumbuh 15% dibandingkan dengan capaian tahun lalu Rp1,49 triliun.
Emanuel B. Caesario | 21 Mei 2018 12:44 WIB
Direktur Utama PT Bank Ina Perdana Tbk. Edy Kuntardjo (kiri) berbincang dengan Direktur Utama CAR Life Insurance Freddy Thamrin, di sela-sela penandatanganan perjanjian kerja sama bancassurance, di Jakarta, Jumat (18/5/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—PT Bank Ina Perdana Tbk. menargetkan penyaluran kredit tahun ini akan mencapai Rp1,72 triliun, atau tumbuh 15% dibandingkan dengan capaian tahun lalu Rp1,49 triliun.

Edy Kuntardjo, Direktur Utama Bank Ina Perdana, mengatakan bahwa pada tahun ini perseroan akan fokus pada penyelesaian masalah-masalah yang masih membelit perseroan, termasuk di antaranya yakni tingkat non performing loan yang tinggi.

Perseroan akan mengurangi exposure pada perusahaan multifinance yang selama ini banyak menyumbang NPL lantaran bisnisnya yang mengetat. Selain itu, perseroan akan memacu penyaluran kredit pada sektor-sektor produktif lain, seperti perkebunan dan manufaktur.

“Kami, Bank Ina sudah mulai fokus secara bertahap menyelesaikan masalah NPL. Diharapkan pada 2018 NPL kami sekitar 2% karena kredit yang bermasalah kami kurangi, tetapi di sisi lain kredit kami tumbuh sekitar 15% pada 2018,” katanya, Senin (21/5/2018).

Adapun, NPL gross emiten dengan kode saham BINA ini memang relatif tinggi beberapa tahun terakhir. Pada 2016, NPL gross BINA mencapai 3,14% dan pada 2017 meningkat menjadi 4,60%. Hingga April tahun ini, NPL perseroan masih sekitar 3,92%.

Tingginya NPL menyebabkan perseroan harus cukup banyak menanggung beban cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). Tahun lalu, beban CKPN mencapai Rp23,66 miliar, sementara pada 2016 mencapai Rp19,83 miliar.

Pada semester pertama ini, perseroan masih fokus pada pembentukan CKPN. Pada kuartal pertama, perseroan telah memupuk CKPN Rp8 miliar dan akan ditambah Rp8 miliar lagi pada kuartal kedua ini.

Perseroan berharap, dengan upaya perbaikan kinerja tahun ini, perseroan dapat meningkatkan laba dari Rp18,34 miliar pada tahun lalu menjadi sektair Rp26 miliar tahun ini.

Edy mengatakan, perseroan hampir pasti tidak akan menaikkan suku bunga kredit tahun ini meskipun Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuan BI 7 days repo rate.

Suku bunga yang rendah masih menjadi daya saing perseroan untuk mendapatkan permintaan kredit, sehingga di tengah situasi ekonomi yang masih relatif berat saat ini opsi peningkatan suku bunga belum jadi pilihan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank ina

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top