Asuransi ACA Raup Premi Rp1,48 Triliun

Perusahaan asuransi kerugian, PT Asuransi Central Asia atau ACA meraup pertumbuhan pendapatan premi sebesar 8% pada semester I/2018.
Reni Lestari | 28 Agustus 2018 17:24 WIB
Karyawan ACA melayani nasabah. (jibi)

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan asuransi kerugian, PT Asuransi Central Asia atau ACA meraup pertumbuhan pendapatan premi sebesar 8% pada semester I/2018.

Debie Wijaya, Branch Operational Director ACA mengatakan hingga akhir Juni 2018, pihaknya meraup kolektabilitas sebesar Rp1,48 triliun, tumbuh 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Hingga akhir tahun pihaknya menargetkan total pendapatan premi Rp3,3 triliun. Angka tersebut tidak berubah jika dibandingkan degan target pendapatan premi tahun lalu yang belum mampu mencapai target yang ditetapkan.

"Target kami tahun ini tetap Rp3,3 triliun karena tahun lalu kami kan cuma tercapai 83% [dari target tersebut]," kata Debie kepada Bisnis, Selasa (28/8/2018).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, sampai akhir Desember 2017, pendapatan premi tercatat sebesar Rp2,79 triliun, turun 5,76% dibandingkan perolehan 2016 senilai Rp2,96 triliun.

Adapun pendapatan premi tersebut ditopang oleh premi asuransi kendaraan dan properti. Debie mengatakan akumulasi dari dua lini bisnis tersebut sekitar 85%, sisanya dikontribusikan oleh lini bisnis marine cargo, marine hull, kesehatan dan perjalanan. Portofolio kontribusi tersebut diperkirakan tidak akan banyak berubah sampai akhir tahun.

Debie mengatakan, target tahun lalu belum tercapai karena kondisi ekonomi nasional yang masih dalam keadaan lesu. Dia mengaku optimistis perseroan dapat mencapai target Rp3,3 pendapatan premi tahun ini dengan memaksimalkan lini bisnis dan saluran distribusi yang selama ini ditekuni. "Kami akan tetap fokus kepada core bisnis kami, banking, korporasi, broker, agen, dan financial company," jelasnya.

Sampai akhir tahun dia mengatakan belum akan meluncurkan produk baru maupun membuka cabang-cabang pemasaran baru. Sementara itu, premi bruto secara industri tumbuh sebesar 11% menjadi Rp33,1 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp29,8 triliun.

Wakil Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Trinita SitumeangLini bisnis menjelaskan, asuransi harta benda dan kendaraan bermotor masih mendominasi pangsa pasar premi asuransi umum sebesar 53%. Namun, pangsa pasar lini bisnis ini turun dibandingkan dengan semester I/2017 sebesar 56%.

Premi bruto kendaraan bermotor naik 9%, dari Rp8,45 triliun pada semester I/2017 menjadi Rp9,21 triliun pada semester I/2018. Sedangkan premi bruto asuransi harta benda atau properti tercatat tumbuh 1,2% secara tahunan menjadi Rp8,35 triliun pada semester I/2018.

Tag : asuransi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top