BTPN dan Bisnis Indonesia Urai Prospek Ekonomi 2019 Bagi Pebisnis Sulsel

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN) bersama Harian Bisnis Indonesia menggelar forum diskusi dengan melibatkan kalangan pebisnis lintas sektor di Sulawesi Selatan.
Amri Nur Rahmat | 20 September 2018 16:52 WIB
Wakil Dirut PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) Ongki Wanadjati (kiri) berbicara pada entrepreneur networking forum yang bertemakan peluang UMKM di era digital dan tantangan tahun politik bersama Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara (kanan) yang dipandu oleh Pemimpin Redaksi harian Bisnis Indonesia Hery Trianto di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (20/9). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, MAKASSAR - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN) bersama Harian Bisnis Indonesia menggelar forum diskusi dengan melibatkan kalangan pebisnis lintas sektor di Sulawesi Selatan.

Kegiatan yang bertajuk Entrepreneur Networking Forum itu mengambil tema Peluang UMKM di Era Digital dan Tantangan Tahun Politik itu diselenggarakan pula untuk memberikan gambaran tentang prospek ekonomi 2019 bagi pebisnis.

Adapun pada forum itu menghadirkan pembicara Bhima Yudhistira (ekonom Institute for Development of Economics and Finance/Indef) serta Wakil Direktur Utama BTPN Ongki Wanadjati Dana, dan dipandu oleh Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia Hery Trianto.

Diskusi mengupas tentang berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada 2019 yang merupakan tahun politik serta di era perkembangan teknologi digital.

Dalam pemaparannya, Ongki menyampaikan, sebagai bank yang memiliki visi mengubah hidup jutaan rakyat Indonesia, BTPN meyakini inovasi adalah kunci pertumbuhan.

Salah satu inovasi yang dilakukan BTPN adalah menghadirkan BTPN Mitra Bisnis, yaitu unit usaha yang dirancang khusus untuk melayani berbagai kebutuhan dari para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) melalui solusi keuangan yang dapat diandalkan, pengembangan kapasitas usaha, dan pembukaan akses ke pasar yang lebih luas.

BTPN Mitra Bisnis hadir dengan berbagai produk dan layanan perbankan untuk kebutuhan usaha modal kerja dan investasi usaha nasabah.

Selain pembiayaan, BTPN Mitra Bisnis juga hadir dengan dukungan solusi nonkeuangan untuk membantu nasabah mengembangkan kapasitasnya dalam menjalankan usaha yang termasuk dalam Program Daya. Program Daya merupakan program pemberdayaan yang berkelanjutan dan terukur dari BTPN untuk meningkatkan kapasitas nasabah.

Untuk mendukung proses bisnis yang berorientasi pada kebutuhan serta kenyamanan nasabah, BTPN Mitra Bisnis juga memanfaatkan platform digital.

Sejak April 2018, BTPN Mitra Bisnis memperkenalkan platform digital berbasis web (web-based) yang disebut AksesBisnis@BTPN (Akses Bisnis). Melalui Akses Bisnis, nasabah BTPN Mitra Bisnis dapat melakukan transaksi di mana pun dan kapan pun melalui browser pada masing-masing komputer atau laptop nasabah.

“Akses Bisnis merupakan bentuk layanan nasabah untuk bertransaksi dengan nilai limit lebih besar secara digital tanpa harus melalui kantor cabang. Platform digital ini diharapkan dapat membantu mitra pelaku UKM mengembangkan usaha mereka lebih efektif dan pada gilirannya mereka dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Ongki dalam forum, Kamis (20/9/2018).

Pada kesempatan yang sama, Ekonom INDEF Bhima Yudhistira memperkirakan perekonomian Indonesia di 2019 akan tumbuh sekitar 5,2%. Sektor logistik, transportasi, konstruksi, dan perdagangan akan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional.

“Permintaan di negara maju sebenarnya cukup solid, hanya saja pelaku usaha diminta untuk mencermati efek perang dagang dan fluktuasi kurs rupiah akibat perubahan dinamika global,” tambahnya.

Sementara perekonomian Sulawesi Selatan diproyeksi tumbuh sebesar 7,5% pada 2019. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan dalam lima tahun terakhir selalu berada di atas rata-rata ekonomi nasional yang sebesar 5% (yoy).

Ini menunjukkan daya tahan ekonomi Sulawesi Selatan cukup baik di tengah dinamika kondisi ekonomi domestik maupun global.

Faktor pendorong ekonomi di Sulawesi Selatan adalah sektor perkebunan khususnya cokelat, industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi termasuk real estate.

Prospek cokelat sebagai komoditas unggulan ditopang oleh berkembangnya tren experiences economy di dalam dan luar negeri, seperti munculnya budaya kafe, hiburan, dan rekreasi. Bahkan konsumsi cokelat di kalangan generasi milenial (umur 18-35 tahun) trennya positif.

“Kuncinya adalah memperbesar porsi industri pengolahan berbasis sumber daya alam yang bernilai tambah dan penetrasi pasar domestik. Semakin besar produk bernilai tambah yang dihasilkan oleh Sulawesi Selatan, maka kekhawatiran fluktuasi harga komoditas tidak menjadi problem utama lagi,” jelas Bhima.

Selain itu, Bhima juga optimistis di tengah era digital dan tantangan tahun politik, sektor UMKM dapat tumbuh lebih tinggi. Adanya platform perdagangan digital atau e-commerce turut membantu pemasaran produk-produk UMKM.

Sedangkan adanya transportasi online juga memudahkan proses distribusi UMKM hingga ke level daerah mulai dari antar makanan hingga jual beli barang sekarang makin cepat dan murah. “Jadi kita harus memandang ekonomi di 2019 dengan rasa optimistis. Event politik justru membawa banyak peluang bisnis, yang terpenting terus inovatif dan jeli membaca situasi, ” pungkasnya.

Tag : btpn
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top