Sampai Akhir Tahun, Selisih Kredit dan DPK Rp99 Triliun

Ipak Ayu H Nurcaya | 27 September 2018 16:41 WIB

 

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia memproyeksi hingga akhir tahun ini selisih antara antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan akan mencapai Rp99 triliun. Namun, angka itu dinilai belum mengkhawatirkan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Erwin Rijanto mengatakan, selisih tersebut masih bisa ditutup dengan pendanaan pasar modal. Oleh karena itu, BI memastikan hal itu bukan menjadi sesuatu yang perlu dicemaskan. "DPK masih akan melambat seperti tahun lalu, sampai akhir tahun akan ada gap antara kredit dan DPK senilai Rp99 triliun," katanya, Kamis (27/9/2018).

Erwin menambahkan perlambatan DPK yang sudah terjadi secara periode bulanan dari Juni 6,99% ke Juli 6,88% diproyeksi berlanjut sampai akhir tahun. Bank Indonesia pun masih memproyeksikan rentang pertumbuhan DPK sepanjang tahun ini berada di kisaran 8%—10%.

Menurut Erwin, ada sejumlah hal yang menyebabkan DPK melanjutkan trennya melambat. Antara lain, banyaknya DPK valas yang digunakan sebagai pembiayaan impor dan pembiayaan infrastruktur di samping penerbitan SBN pemerintah. Tak hanya itu, BI juga menilai dari sisi korporasi banyaknya perusahaan yang mengurangi utang luar negeri membuat perusahaan memilih menguras anggaran belanja modal atau capital expenditure dari kas internal. 

Adapun, proyeksi Bank Indonesia ini selaras dengan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) yang menyatakan pada tahun ini DPK perbankan hanya akan tumbuh 8%, dan akan lebih rendah dari penyaluran kredit yang diperkiraka tumbuh 10%. Sementara, pada tahun lalu pertumbuhan DPK secara industri mencapai 9,4%, tetapi dengan pertumbuhan kredit yang hanya 8,2%. 

Tag : BI Rate, bunga kredit
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top