LPS: BUKU III Lebih Siap Hadapi Pengetatan Likuiditas

Meski mencatatkan loan to deposits (LDR) paling tinggi, Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) III dinilai lebih siap hadapi pengetatan likuiditas dan pengetatan kebijakan moneter. Hal itu tercermin dari loan to funding ratio (LFR) yang menurun serta peningkatan suku bunga yang tidak terlalu agresif dibandingkan dengan BUKU IV.
Ilman A. Sudarwan | 13 Oktober 2018 18:28 WIB
Karyawan beraktivitas di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Tren pertumbuhan kredit yang melaju lebih kencang daripada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) membuat rasio likuiditas perbankan terus mengetat. Hal itu membuat loan to deposits (LDR) mencapai 93,2% per akhir Agustus.

Jika dilihat berdasarkan ukurannya, Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) III mencatatkan LDR paling tinggi di industri, tepatnya pada level 102,6%. Sementara BUKU IV mencatatkan rasio tersebut pada level 89,2%.

Peningkatan rasio tersebut terjadi beriringan dengan kenaikan suku bunga deposito perbankan, khususnya suku bunga spesial. Doddy Ariefianto, Direktur Group Risiko dan Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS menyampaikan, sejak april BUKU III dan BUKU IV mencatatkan rata-rata kenaikan suku bunga deposito spesial sebesar 94 bps dan 119 bps.

Kendati LDR perbankan cenderung mengalami pengetatan, rasio likuiditas lainnya, loan to funding (LFR) ratio justru cenderung mengalami penurunan secara industri. Doddy berpendapat, hal ini menandakan perbankan, khususnya BUKU III, sudah lebih siap dengan pengetatan likuiditas.

Berbeda dengan LDR, dalam perhitungan LFR, jumlah kredit tidak hanya dibandingkan terhadap jumlah DPK yang dimiliki bank. Dalam rasio tersebut, dihitung pula sumber pendanaan sekunder bank seperti obligasi, ataupun instrumen surat utang lainnya seperti medium term notesi, atau negotiatible certificate of deposit (NCD).

Dia menuturkan, sampai dengan Agustus, LFR perbankan secara umum tercatat pada level 86,3%, menurun dari posisi Agustus tahun lalu 89,5%. BUKU III dan BUKU IV juga mencatatkan LFR yang menurun, masing-masing dari 96% ke 91,2% dan 87,5 ke 84,4%.

“Mereka [BUKU III] sudah persiapkan dari tahun lalu, karena LDR mereka sudah tinggi dari thaun lalu, untuk tahun bisnis 2018, merka sepertinya sudah prepare, pertumbuhan kredit 12% mereka juga punya punya rencana obligasi, MTN, NCD, dan sebagainya,” katanya kepada Bisnis, Jumat (13/10).

Hal ini yang menurutnya membuat kenaikan suku bunga spesial BUKU III tidak lebih tinggi daripada BUKU IV. Bank di kelas teratas, khususnya bank negara menurutnya cukup terkejut dengan kebijakan moneter yang lebih ketat daripada perkiraan.

“Kebijakan moneter lebih cepat dari yang diduga, sedikit shock untuk menaikkan suku bunga lebih cepat, berbeda dengan mereka [BUKU III] kan sudah tinggi dari tahun lalu, mereka prepare shifting ke LFR, mereka LDR naik justru LFR cenderung bergerak turun,” jelasnya.

Tag : perbankan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top