PROGRAM MAYBANK RISE: Tak Ada Yang Tak Mungkin

Ahmad Kadis adalah sosok pria muda berkulit coklat dan selalu tersenyum ceria saat berbincang dengan setiap orang yang ditemuinya.
Novita Sari Simamora | 31 Oktober 2018 23:59 WIB
Ahmad Kadis sedang menjahit potongan kain. Ahmad menjadi tunadaksa sejak 2004 dan mengalami cacat pada kaki kiri. Dokumentasi: Selasa (30/10 - 2018).

Bisnis.com, JAKARTA –Ahmad Kadis adalah sosok pria muda berkulit coklat dan selalu tersenyum ceria saat berbincang dengan setiap orang yang ditemuinya.

Walaupun tak mengecap bangku perguruan tinggi, Ahmad tak pernah merasa takut bersaing dengan pria-pria lain, baik dalam pekerjaan maupun percintaan. Saat berusia 17 tahun, dia pun sudah pandai memperbaiki sepeda motor.

Kemampuan memperbaiki sepeda motor itu bermula saat Ahmad meminta tolong pamannya yang memiliki bengkel untuk memperbaiki motornya. Selang seminggu, ternyata motor Ahmad tak juga diperbaiki pamannya.

Nekat. Hanya bermodal mengamati kegiatan pamannya saat memperbaiki motor Ahmad membongkar motornya sendiri. Ahmad memperhatikan komponen-komponen motor dan mengganti bagian yang rusak. Ternyata dia berhasil memperbaiki kopling dan klep.

"Saya nekat saja. Orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa? Saya bongkar mesin motor dan berhasilkan memperbaiki sendiri," ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (30/10/2018).

Melihat kemampuan itu, paman Ahmad pun beberapa kali mengajaknya untuk membantu di bengkel. Kesempatan itu tak disia-siakan. Ahmad pun segera mengangguk dan berkolaborasi dengan pamannya.

Hari berganti menjadi minggu. Minggu berganti menjadi bulan. Dalam benaknya, alangkah baik bila memiliki bengkel sendiri dan bisa menjadi bos. Namun, Ahmad terkendala oleh dana.

Untuk mengumpulkan modal, Ahmad memutuskan bekerja di pabrik pada 1997. Dia pun berkomitmen untuk menabungkan gajinya setiap bulan. Pergi pagi dan pulang menjelang magrib menjadi rutinitas.

Kegigihannya bekerja ternyata berhasil membuat seorang gadis jatuh hati. Proses pendekatan dan pacaran dilakukan Ahmad. Modal empat tahun bekerja di pabrik menjadi bekal Ahmad meminang gadis pujaan.

Pernikahan pun digelar tahun 2000. Bagi Ahmad, hidup sangat indah. Ada sang pujaan hati menemani setiap hari. Dia pun bekerja lebih tekun, karena harus bertanggung jawab membahagiakan sang istri.

Setahun menikah, Ahmad dan istri dikaruniai satu jagoan kecil. Bayi laki-laki lahir dari pasangan muda ini. Kini tanggung jawab Ahmad pun bertambah.

Baginya, tidaklah sulit untuk menghidupi dua orang yang disayangi, selama diberikan kesehatan. Peran sebagai suami sekaligus ayah membuat Ahmad hampir lupa bahwa dia memiliki impian untuk membangun bengkel pribadi.

Kemalangan tiba-tiba menimpa Ahmad. Pada 2004, kecelakaan membuat kaki kirinya remuk, tepatnya di bagian atas lutut kiri.

Ahmad berobat ke dokter dan sempat direkomendasikan untuk diamputasi.Terbentur persoalan dana, dia dan keluarga memutuskan untuk berobat alternatif khusus patah tulang.

Pascakecelakaan, Ahmad tidak bisa lagi bekerja di pabrik. Pabrik membutuhkan buruh yang sehat dan cekatan. Ahmad pun kehilangan pekerjaan.

Selama berobat, dana di tabungan pun dikuras. Ahmad dibantu oleh keluarga besar untuk sembuh. Namun, saat dia berusahaan untuk bangkit, istri yang sangat disayangi pergi meninggalkannya. Sang istri tak ingin memiliki suami yang cacat.

"Saya merasa tak berguna," kenang Ahmad.

Saat itu Ahmad hanya bisa menangis dan meratapi nasib. Menangis. Menangis dan menangis. Menangis menahan rasa sakit. Menangis karena ditinggal istri. Menangis harus menghidupi anak tanpa istri dan tanpa pekerjaan.

Tiada teman yang dapat membantu secara materi. Tiada teman yang memberikan motivasi dan meyakinkan Ahmad, bahwa ia mampu berjalan esok hari.

"Tidak ada teman-teman yang memberikan motivasi agar saya bisa berjalan," ungkapnya sambil menutup mata dengan telapak tangan, sembari mengusap air mata yang mengalir.

PEMULIHAN FISIK DAN MENTAL

Selama dua tahun, pengobatan yang dijalani Ahmad tidak memberikan pemulihan yang berarti. Akhirnya, Ahmad memutuskan untuk menggunakan pen/logam di kaki kirinya pada 2006.

Meskipun sudah menanam pen, kaki kiri Ahmad masih sulit ditekuk. Saat ini, bekas remuk patahan masih terlihat pada kaki kirinya. Saat pen dipasang, dia belajar menggunakan tongkat untuk berjalan.

Perlahan, Ahmad pun mulai meninggalkan tempat tidur dan menghubungi teman lamanya yang masih bekerja. Saat itu, dia bertemu dengan teman lama, kini sang teman berprofesi sebagai pengacara di Lembaga Bantuan Hukum.

Ahmad memperoleh informasi dari temannya bahwa Dinas Sosial memiliki program bagi disabilitas. Lalu, teman lamanya memberikan rekomendasi kepada Ahmad untuk mengikuti kursus menjahit di Dinas Sosial Serang, Banten.

Belajar membentuk pola kain, menggunting, memasang kancing, menjahit hingga menjadi baju dilakukan Ahmad. Pelatihan menjahit ditekuni selama setengah bulan. Usai pelatihan, dia menerima satu mesin jahit dari Dinas Sosial Serang.

Usai pelatihan, Ahmad pun membuka jasa jahit dan permak pakaian. Keuletan ditambah inovasi pada desain pakaian, membuat pesanan menjahit semakin bertambah. Bahkan, Ahmad cukup sering dipercaya pabrik konveksi dan sekolah untuk menjahit seragam.

Nama Ahmad Kadis pun semakin tenar. Dia memiliki jaringan yang lebih luas, tak hanya mengenal pekerja-pekerja dari satu pabrik saja. Saat sedang menyelsaikan pesanan dari pabrik konveksi, Ahmad bertemu dengan seorang gadis yang kesulitan mencari kerja.

Rasa iba pun muncul, sebab Ahmad juga pernah kehilangan pekerjaan. Dia berjanji kepada gadis tersebut untuk membantu hingga bekerja di pabrik yang dituju. Dia pun menghubungi beberapa pegawai yang dikenal dan meminta bantuan agar gadis tersevut bisa diterima bekerja.

Takdir baik berpihak kepada gadis yang ditemui Ahmad. Niat tulusnya pun berhasil membuat perempuan itu memiliki penghasilan tetap. Mereka berdua pun saling bertukar nomor telepon genggam.

Komunikasi yang baik tetap dilakukan Ahmad kepada klien yang ada di pabrik, khususnya dengan perempuan yang pernah dibantunya. Dia mengawasi perempuan tersebut dan berharap segala kebaikan selalu menyertainya.

Ketulusan Ahmad membuat perempuan tersebut jatuh hati. Walaupun Ahmad berjalan menggunakan tongkat, berstatus duda dan memiliki anak, gadis belia itu bersedia menerima segala kekurangan Ahmad.

Pada 2013, Ahmad menikahi gadis tersebut. Kali ini, usia Ahmad dan istri berjarak 11 tahun. Ahmad lahir pada 1981 dan istrinya lahir pada 1992. Saat menikah, Ahmad teringat dengan doanya ketika ditinggal istri pertama. Saat itu Ahmad dalam kondisi tak bisa berjalan.

"Waktu itu, saya berdoa. Berdoa agar ada yang menerima dan dipertemukan dengan perempuan yang baik dan bisa menerima keadaan saya," kenang Ahmad.

Setelah menikah, rezeki Ahmad semakin lancar. Pesanan dari pabrik semakin bertambah. Kondisi itu, membuat Ahmad kewalahan untuk menyatukan potongan-potongan kain menjadi pakaian. Lalu, dia pun menggandeng tiga orang disabilitas untuk bekerja bersamanya.

Ahmad mengajak warga desa yang menderita polio dan cacat pada tangan kanan, untuk bekerja sama. Dia tak ingin kalangan disabilitas dinilai tak memiliki kemampuan dan terpuruk dari sisi ekonomi. Kini, dia sudah memiliki lima mesin untuk mempercepat proses menjahit.

PROGRAM MAYBANK RISE

Ahmad mengetahui program Maybank Rise dari kantor kecamatan dekat rumahnya. Dia mengikuti program Maybank Rise pada 2017, untuk daerah Tangerang. Menurutnya, pelatihan yang diberikan oleh Maybank Rise mengajari dirinya mengatur keuangan.

"Kalau sudah memiliki usaha, harus ada aturan keuangan. Sebab, kadang uang saya habis begitu saja, tanpa ada alokasi yang pasti," tambahnya.

Pelatihan yang didapat dari Maybank diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kini Ahmad mengetahui bahwa pendapatan per bulan bisa sekitar Rp5 juta-Rp10 juta. Bila Ahmad mengantongi banyak pesanan dari pabrik dan sekolah maka angka Rp10 juta bisa dikantongi.

Ahmad pun berhasil membangun rumah seluas 13m x 9m. Pembangunan itu dilakukan secara bertahap, sesuai dengan komitmennya dalam menabung sekitar 20%-30% dari pendapatan bulanan.

Saat dihubungi terpisah, CSR Head & Sec. Maybank Indonesia Foundation Juvensius Judy Ramdojo mengatakan, jumlah peserta pelatihan yang berasal dari Tangerang mencapai 119 peserta. Dia mengatakan, kendala utama yang sering dihadapi saat memberikan pelatihan adalah peserta disabilitas tidak memiliki rasa percaya diri dan menutup diri.

Melalui pelatihan dari Maybank Rise, peserta terbuka wawasannya dan memiliki semangat. Pelatihan yang diberikan oleh Maybank, tidak berakhir saat pertemuan tatap muka selesai, sebab peserta pelatihan selalu dihubungi intensif selama 3 hingga 6 bulan.

"Kami menghubungi mereka secara intensif selama 3 hingga 6 bulan setelah pelatihan, untuk memastikan peserta tetap konsisten dalam perkembangan, terus semangat dan tidak terseret oleh pandangan negatif orang sekitar," kata Juvensius.

Adapun proyek Maybank RIse dirilis pada 2016 dan akan berakhir 2019. Hingga 2018, jumlah peserta sudah mencapai 2.200 peserta. Pascaprogram pelatihan, Maybank sedang menyiapkan training of trainer, yang akan dilakukan pada 2020.

Juvensius mengharapkan, dari ribuan peserta yang berperan sebagai peserta, muncul 10 peserta terbaik di setiap kota, dengan harapan bisa menjadi mentor dan agen perubahan bagi para penyandang disabilitas.

Pada setiap pelatihan, Juvensius selalu memberikan pesan agar peserta Maybank Rise berinsiatif membentuk grup bagi kaum disabilitas.

Saat ini, program Maybank Rise dilakukan di beberapa negara, selain Indonesia, ada juga Filipina dan Malaysia. Adapun anggaran yang disediakan untuk periode 2016-2019 sekitar 15,66 juta ringgit.

Indonesia memperoleh anggaran senilai 6,87 juta ringgit atau sekitar 43,86% dari total anggaran untuk program Maybank Rise.

Juvensius mengatakan, Indonesia merupakan target peserta paling banyak sehingga alokasi dana yang diberikan cukup besar.

Juvensius berharapkalangan disabilitas yang sudah memperoleh pelatihan mampu mandiri secara ekonomi dan membantu disabilitas lain melalui usaha. Kini, harapan Juvensius telah dijalankan oleh Ahmad.

Selain mempekerjakan kalangan disabilitas, Ahmad juga rutin mengadakan pertemuan dengan teman-teman yang senasib dengannya. Pertemuan itu menjadi wadah bagi Ahmad untuk berbagi motivasi dan pengalaman hidup.

Kini Ahmad, sudah bisa semringah. Air mata yang mengalir dari ujung matanya telah mengering. Tak ada yang tak mungkin jika dilakukan dengan kesungguhan.

Tag : maybank, penyandang disabilitas
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top