Penyaluran Pembiayaan BFI Finance Tumbuh 24,2%

PT BFI Finance Indonesia mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan baru sebesar 24,2% per kuartal III/2018 menjadi Rp12,7 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp10,2 triliun.
Dika Irawan | 02 November 2018 15:53 WIB
Karyawati memberikan penjelasan kepada nasabah di kantor BFI Finance di Jakarta. - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA -- PT BFI Finance Indonesia mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan baru sebesar 24,2% per kuartal III/2018 menjadi Rp12,7 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai Rp10,2 triliun.

Dari jumlah itu, pembiayaan mobil bekas masih mendominasi dengan porsi 68%, diikuti pembiayaan motor 15%, alat berat dan mesin 14%, serta mobil baru dan properti dengan kontribusi masing-masing 2% dan 1%.

Pencapaian ini mendongkrak pertumbuhan piutang bersih sebesar 24,5% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp17,7 triliun. Adapun total aset tercatat senilai Rp19,4 triliun atau meningkat 26,8% dari periode yang sama pada 2017.

Direktur Keuangan dan Corporate Secretary BFI Finance Sudjono mengatakan di tengah momentum kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta kondisi bisnis yang cukup menantang, pihaknya tetap mampu membukukan kinerja yang sehat.

 “Sesuai rencana kerja yang ditetapkan,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Jumat (2/11/2018).  

Kebijakan dari Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan mulai Mei 2018 turut berpengaruh terhadap kinerja perseroan. Bank sentral Indonesia telah mengerek 7-Days Reverse Repo Rate (7DRRR) dari 4,25% secara bertahap hingga mencapai 5,75% pada September 2018.

“Kebijakan ini tentu saja berpengaruh pada cost of fund industri pembiayaan. Untuk mengimbangi kenaikan tersebut, BFI Finance turut menaikkan bunga pembiayaan antara 0,5% - 1% pada September 2018,” terang Sudjono.

Namun, lanjutnya, efek kenaikan suku bunga ini belum berdampak signifikan bagi perusahaan. Pasalnya, BFI Finance berhasil mempertahankan kinerja dengan membukukan peningkatan laba bersih yang cukup solid sebesar 30% yoy menjadi Rp1,1 triliun, dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 27,5% menjadi Rp3,7 triliun.

Sementara itu, Non Performing Financing (NPF) pun diklaim stabil di kisaran 1,2%, sama dengan posisi kuartal II/2018. Capaian ini disebut masih jauh lebih baik dibandingkan angka NPF industri yang berkisar di level 3,1%.

Selain itu, hingga kuartal III/2018, perseroan telah memperluas jaringan penjualan dari Sumatra Utara hingga Papua dengan sebaran outlet sebanyak 389 unit. Empat di antaranya menyediakan Unit Usaha Syariah (UUS).

“Jumlah ini merupakan peningkatan 47 outlet sejak akhir 2017," tambah Sudjono.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
multifinance, bfi finance

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top