BI Minta BPD Kendalikan Dana Mahal

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Indonesia meminta bank daerah untuk tetap menjaga kebutuhan likuiditas serta turut menjaga kondisi likuiditas pasar menjelang akhir tahun ini.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 04 Desember 2018  |  20:41 WIB
BI Minta BPD Kendalikan Dana Mahal
Petugas memeriksa uang di cash center'Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (15/5). - Antara/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia meminta bank daerah untuk tetap menjaga kebutuhan likuiditas serta turut menjaga kondisi likuiditas pasar menjelang akhir tahun ini.

Hal itu disampaikan dalam rapat yang dilaksanakan di kompleks Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (4/12) siang. Bank daerah diminta untuk menjaga komposisi dana mahal dengan tidak menaikkan suku bunga secara berlebihan.

Direktur Keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Ferdian Timur Satyagraha menyatakan bahwa dalam rapat yang juga dihadiri oleh perwakilan bank umum lainnya tersebut, BPD diminta untuk menyampaikan kebutuhan dana menjelang akhir tahun ini.

“Intinya BPD harus melihat posisi likuiditas pasar terjaga sehingga diminta mengelola dana mahalnya dengan rate wajar, dan menjelaskan kebutuhan dana di akhir tahun,” katanya kepada Bisnis, Selasa (4/12/2018).

Dalam rapat tersebut, secara umum bank juga diminta memperhatikan kebutuhan uang beredar selama periode Natal dan akhir tahun 2018. Secara nasional, kebutuhan dana diperkirakan mencapai Rp101,1 triliun, meningkat 10,3% dari kebutuhan pada akhir tahun lalu.

Dengan proyeksi besarnya kebutuhan uang atau outflow pada periode tersebut, bank diminta untuk menjaga suku bunga melalui pengelolaan likuiditas di pasar uang (money market). Secara umum, BI memperkirakan kecukupan likuiditas masih terjaga sepanjang 2018.

Sampai dengan November 2018, rata-rata posisi OM kontraksi mencapai Rp396,89 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi daripada rata-rata 2016, yang mencapai Rp361,74 triliun. Namun, rataan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp472,62 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, operasi moneter

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top