Fintech: Penyaluran P2P Lending 2019 Ditargetkan Tembus Rp40 Triliun

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menargetkan pertumbuhan peer-to-peer (P2P) lending pada tahun depan bakal naik dua kali lipat menjadi hampir Rp40 triliun.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 12 Desember 2018  |  21:18 WIB
Fintech: Penyaluran P2P Lending 2019 Ditargetkan Tembus Rp40 Triliun
Bisnis/ilham

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menargetkan pertumbuhan peer-to-peer (P2P) lending pada tahun depan bakal naik dua kali lipat menjadi hampir Rp40 triliun.

Ketua Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi mengatakan sejumlah faktor seperti perluasan pasar ke daerah, diversifikasi produk, ekspansi pasar, dan kolaborasi dengan institusi keuangan dan perusahaan teknologi akan menjadi faktor pendorongnya.

“Kami sudah koordinasi dengan beberapa anggota, minimum penyalurannya tumbuh dua kali lipat,” ujarnya, Rabu (12/11).

Berdasarkan data OJK, hingga Oktober 2018, penyaluran P2P lending telah mencapai Rp16 triliun. Capaian ini naik 525% dari capaian sepanjang 2017 yakni Rp2,56 triliun.

AFPI juga terus mendorong kolaborasi dengan badan usaha di daerah seperti Bank Pembangunan Daerah sebagai mitra lokal untuk menjangkau daerah. 

Berdasarkan riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) pada pertengahan 2018, P2P lending akan berkontribusi hingga 25,97 triliun terhadap PDB pada tahun depan.

“Saya rasa ini bukan angka yang kecil dengan umur kami yang masih muda. Artinya, multiplier effect bisa mencapai dua kali lipat,” tuturnya.

Menurut Adrian, salah satu sektor yang potensial untuk dikembangkan adalah pembiayaan kepada industri kreatif dan jasa penyedia sumber daya manusia (SDM). Segmen-segmen ini sukar mendapat pinjaman dari perbankan karena tidak memiliki fixed asset yang dapat digunakan sebagai jaminan.

“Perusahaan seperti event organizer, agency, dan production house yang memiliki kontrak dengan perusahaan sekelas multinasional. Ini yang harus kami dorong,” tuturnya.

Kendati potensi penyaluran yang besar, industri P2P lending merupakan industri baru sehingga jalan yang ditempuh untuk mencapai cuan yang signifikan masih cukup panjang. Ketua Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Niki Luhur menilai profitabilitas bagi perusahaan fintech tidak dapat dicapai dalam waktu singkat.

“Bukan berarti jika suatu bisnis tidak profitable, maka tidak sehat bisnisnya. Lihat saja 10 perusahaan terbesar di dunia mayoritas adalah perusahaan teknologi yang awalnya tidak mencapai profit dalam jangka waktu hanya mungkin 3 tahun,” tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Pengaturan, Perizinan dan Pengawasan Financial Technology, Hendrikus Passagi memprediksi capaian penyaluran P2P lending hingga akhir 2018 dapat mencapai Rp18 triliun—Rp20 triliun. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fintech

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top