Tekfin Syariah Cocok Bagi Bisnis UMKM, Begini Penjelasannya

Pelaku usaha menilai geliat teknologi finansial syariah pada 2019 menjadi pendongkrak paling aman bagi kemajuan usaha mikro kecil dan menengah.
M. Richard | 21 Januari 2019 22:04 WIB
Ilustrasi teknologi finansial. - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha menilai geliat teknologi finansial syariah pada 2019 menjadi pendongkrak paling aman bagi kemajuan usaha mikro kecil dan menengah.

Ketua Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia Ikhsan Ingratubun mengatakan teknologi finansial Syariah adalah jalan terbaik bagi usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Indonesia. Asalkan label syariah tersebut benar-benar diterapkan dalam praktik bisnisnya.

"Teknologi finansial Syariah adalah jalan terbaik bagi usaha mikro di Indonesia. Saya harap praktiknya benar dan tidak hanya berkedok syariah padahal praktiknya sama dengan konvensional," katanya kepada Bisnis, Senin (21/1/2018).

Dia menjelaskan, sistem syariah akan memberi kesempatan penyaluran dana yang lebih fleksibel dan bertanggung jawab kepada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dalam proses pengembaliannya, sistem syariah juga lebih menunjukkan toleransi lebih tinggi, karena lebih memahami bahwa sektor UMKM bukan sektor yang dapat digunakan hanya untuk mendapatkan untung, tetapi sektor yang perlu mendapat bimbingan lebih intensif.

“Dengan begitu, penagihan yang dilakukan lewat tekfin syariah tidak menggunakan kata-kata kasar seperti tekfin konvensional kebanyakan,” katanya.

Adapun, Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Luthfi Adiansyah mengatakan Indonesia memiliki 3 perusahaan teknologi finansial yang aktif, yakni Ammana, Dana Syariah, dan Investree Syariah, yang total penyaluran dananya bisa mencapai Rp100 miliar per tahun.

Jika tahun ini 8 perusahaan baru bisa disetujui lagi oleh OJK maka pembiayaan hingga Rp200 miliar bisa terealisasi.

"Yang sedang dalam proses pendaftaran ada 8 perusahaan. Kami harap tahun ini bisa beroperasi dan bisa membantu pelaku UMKM," katanya.

Adapun, dia memaparkan, Ammana tekfin menargetkan pengembangan UMKM, dan bahkan lebih menyasar pelaku industri dengan pinjaman hingga Rp20 juta.

Ammana tengah mengupayakan tahun ini mampu menyasar pelaku usaha kelas menengah dengan pinjaman bisa mencapai Rp300 juta.

"Ammana mencoba menargetkan pelaku yang kelas menengah. Kami berharap dapat mencapai pembiayaan hingga Rp50 miliar dengan penerima manfaat 5.000 pelaku usaha," kata Luthfi yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Ammana Fintech.

Sementara itu, Investree Syariah juga fokus pada pengembangan pelaku usaha kelas menengah dengan metodenya invoice financing, dan pembiayaan berkisar antara Rp300 juta hingga Rp2 miliar.

Invoice financing adalah pembiayaan menggunakan invoice belum terbayar yang dimiliki sebagai dokumen utama dalam aplikasi pinjaman.

Berdasarkan catatan Bisnis, potensi tekfin baru yang beroperasi tahun ini cukup besar. Pasalnya, OJK memiliki 58 perusahaan peer-to-peer (P2P) lending yang sedang menjalani proses pendaftaran.

Di luar itu, masih ada perusahaan yang berminat mendaftar 38 unit, sedangkan total perusahaan yang memiliki potensi mendaftarkan tekfinnya mencapai 244 unit badan usaha.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top