Ditopang Kredit Korporasi, Bisnis MUFG Tumbuh Dua Digit

MUFG Bank Ltd. (MUFG Bank) menyatakan pada tahun ini bisnis penyaluran kredit masih difokuskan pada segmen korporasi, khususnya infrastruktur, yang dinilai masih memiliki prospek positif.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 13 Februari 2019  |  06:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – MUFG Bank Ltd. (MUFG Bank) menyatakan pada tahun ini bisnis penyaluran kredit masih difokuskan pada segmen korporasi, khususnya infrastruktur, yang dinilai masih memiliki prospek positif. 

Matthew Hanzel, Corporate Communications Planning Department MUFG Bank Ltd. Cabang Jakarta, menyampaikan sejauh ini hampir 100% portofolio kredit perseroan disalurkan ke segmen perbankan korporasi.

"Kami masih tetap mendukung kredit korporasi lintas sektor. Kami juga tetap berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, di antaranya melalui pembiayaan infrastruktur sebagai salah satu fokus kami," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu. 

Segmen bisnis korporasi yang menjadi motor utama bisnis MUFG Bank di Kantor Cabang Jakarta mampu membuat kinerja perseroan tumbuh signifikan sepanjang 2018. Perkembangan bisnis yang positif tersebut tercermin dari pertumbuhan tahunan sejumlah indikator keuangan utama. 

"Kami mengalami pertumbuhan dua digit dari segi kredit dan profit tahun 2018, merujuk pada data kami yang unaudited. Di satu sisi NPL juga tetap terjaga di bawah level 1% seperti tahun sebelumnya," ujar Matthew. 

Sebagai informasi, MUFG Bank kantor cabang Jakarta memperkirakan total aset hingga akhir 2018 tumbuh 13,03% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (unaudited). Khusus untuk total aset kredit tumbuh 21,40% secara year on year (YoY). 

Dari sisi pendanaan, penghimpunan total dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan tumbuh sekitar 1,88% secara year on year. 

Penyaluran pembiayaan dan penghimpunan pendanaan yang dilakukan perseroan berkontribusi mengerek laba operasional yang tumbuh secara tahunan sebesar 36,30% hingga akhir Desember 2018. Adapun kenaikan laba sebelum pajak berkisar 34,18% (YoY). 

Sementara itu, aspek kehati-hatian yang diterapkan perseroan membuat rasio kredit bermasalah (non performing loan /NPL) terjaga di level yang rendah. NPL gross MUFG Bank pada akhir 2018 tercatat di level 0,48%. 

"Untuk tahun 2019 kami menargetkan untuk menjaga tingkat pertumbuhan kredit diimbangi dengan pertumbuhan DPK yang sehat untuk tetap menjaga tingkat likuiditas bank. Untuk NPL kami tetap berkomitmen menjadi salah satu bank yang memegang prinsip kehati-hatian dengan konsisten, dan menjaga tingkat NPL kami pada level yang sehat," imbuhnya.

Selain lewat penyaluran secara langsung, pada tahun inj MUFG Bank juga akan memacu pertumbuhan lewat pemberian kredit sindikasi alias lewat skema joint financing.

Namun Matthew masih enggan memerinci transaksi kredit sindikasi maupun proyek infrastruktur yang akan dibidik perseroan pada kuartal awal 2019. 

Pada perkembangan lain, MUFG Bank cabang Jakarta mulai merealisasikan penghimpunan dana nonkonvensional demi memenuhi kebutuhan likuiditas non-DPK.

Belum lama ini perseroan telah menerbitkan sertifikat deposito atau negotiable certificate deposit (NCD) senilai total Rp1,14 triliun untuk mendukung rencana ekspansi bisnis perseroan. 

“Penggunaan NCD yang baru kami terbitkan akan dimanfaatkan untuk menunjang pertumbuhan bisnis MUFG Bank Kantor Cabang Jakarta sepanjang tahun 2019,” katanya.

Mengutip keterangan perseroan kepada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sertifikat deposito NCD IV MUFG Bank Tahap II Tahun 2019 tersebut mulai didistribusikan sejak 7 Februari dan dibagi dalam lima seri dengan tingkat bunga mulai dari 7,70% hingga 8,20%.

Rinciannya yakni Seri A bertenor tiga bulan dan tingkat bunga 7,45% per tahun dengan nilai jumlah pokok Rp140 miliar. Seri B bertenor enam bulan, tingkat bunga 7,70% per tahun dan jumlah pokok Rp180 miliar.

Seri C memiliki tenor sembilan bulan, tingkat bunga 7,85% per tahun dengan jumlah pokok Rp200 miliar. 

Seri D sebesar Rp320 miliar bertenor 12 bulan dengan tingkat bunga 7,90% per tahun. Terakhir, seri E memiliki tenor 24 bulan dengan bunga 8,20% per tahun dan jumlah pokok Rp300 miliar.

Matthew mengatakan perseroan tidak menutup peluang untuk kembali menghimpun pendanaan nonkonvensional untuk keperluang ekspansi bisnis. Hanya saja, dia tidak menyebutkan secara spesifik jumlah target dana nonkonvensional yang akan dihimpun perseroan pada tahun ini.

“Untuk rencana pendanaan sepanjang tahun ini, kami akan tetap memantau dan menyesuaikan dengan kebutuhan bisnis kami, serta melihat dan mengantisipasi tren pasar.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top