Likuiditas Seret, Ini Beberapa Faktor Penyebabnya

Melambatnya pertumbuhan likuiditas perbankan pada tahun lalu ditengarai disebabkan oleh keluarnya dana dari sistem perbankan yang tidak seluruhnya kembali masuk ke dalam rekening.
Ilman A. Sudarwan | 14 Februari 2019 18:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Melambatnya pertumbuhan likuiditas perbankan pada tahun lalu ditengarai disebabkan oleh keluarnya dana dari sistem perbankan yang tidak seluruhnya kembali masuk ke dalam rekening.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Anton Hermanto Gunawan memperkirakan setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan likuiditas perbankan, yang terlihat dari rendahnya pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

“Berbagai faktor ini masih berupa perkiraan dan hipotesa awal, belum terbukti apakah benar-benar berpengaruh terhadap melambatnya likuiditas. Harus dilihat lebih jauh lagi,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (13/2/2019).

Pertama, adalah faktor pengeluaran masyarakat, terutama para elit politik jelang pesta demokrasi. Menurutnya, kebutuhan uang tunai menjelang pemilu cukup tinggi, dan kebanyakan menyasar masyarakat bawah yang belum terjangkau perbankan.

Terlepas dari legal atau tidaknya hal tersebut, Anton mensinyalir hal itu menjadi salah satu faktor besar. Di tambah lagi, kegiatan korupsi di lingkungan politik Tanah Air juga memungkinkan banyaknya dana yang keluar dari sistem perbankan.

“Politik, untuk voters yang kelompok bawah yang jadi sasarannya, atau satu lagi yang tidak bisa ditelusuri, yaitu uang korupsi, kalau ada yang tertangkap misalnya itu kan ada banyak uang tunai, nah itu yang kita tidak tahu persisnya berapa,” jelasnya.

Kedua, pengeluaran atau belanja pemerintah untuk yang bersifat bantuan sosial kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Menurutnya, sulit mengharapkan dana bantuan tersebut masuk kembali kedalam sistem perbankan.

“Dari spending pemerintah pusat yang sekitar Rp1.000 triliun, itu berapa persen sih yang ke masyarakat bawah? Kalau 20% kan sekitar Rp200 triliun, yang balik ke sistem kan relatif lebih sedikit,” katanya.

Ketiga, dia juga mencermati adanya kemungkinan lain dari faktor bencana alam yang terjadi sepanjang tahun lalu. Dia mengatakan, salah satu pertumbuhan pengeluaran masyarakat paling tinggi adalah pengeluaran Non Government Organization (NGO) yang kemungkinan banyak mengambil dananya di perbankan.

“Naiknya sekitar 10%, kenapa naiknya segitu? Nah mungkin, ini secara coba melihat kaitannya, kemungkinan karena pengeluaran yayasan, NGO, dan sebagianya untuk dana bencana alam. Kalau kita masukkan ke dalam konteks DPK, mungkin mereka ambil dananya dari bank untuk disalurkan ke sana,” jelasnya.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penghimpunan dana pihak ketiga perbankan sampai dengan November mencapai Rp5.573,38 triliun, tumbuh 7,19% secara tahunan. Pada periode yang sama, penyaluran kredit mencapai Rp5.160,15 triliun, tumbuh 12,05% secara tahunan.

Secara tahun berjalan, pertumbuhan DPK tampak lebih mengkhawatirkan. Sepanjang Januari—November 2018, DPK hanya tumbuh 5,37%, atau bertambah sekitar Rp284,01 triliun. Di sisi lain, kredit tumbuh 9,09% secara tahunan, bertambah Rp430,83 triliun.

Tag : likuiditas
Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top