Hasil RDG BI Akan Diumumkan Siang Ini, Bagaimana Potensinya?

Kuatnya fundamental ekonomi akan membulatkan keputusan dewan gubernur Bank Indonesia untuk kembali menahan suku bunga. 
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  07:30 WIB
Hasil RDG BI Akan Diumumkan Siang Ini, Bagaimana Potensinya?
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berlangsung sejak Rabu (20/2) hingga Kamis (21/2). - Ilustrasi/Bisnis/Hadijah Alaydrus

Bisnis.com, JAKARTA -- Kuatnya fundamental ekonomi akan membulatkan keputusan dewan gubernur Bank Indonesia untuk kembali menahan suku bunga. 

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akan diumumkan siang ini, Kamis (21/02/2019), sekitar pukul 14:00 WIB.

Kepala Riset LPEM UI Febrio N. Kacaribu mengungkapkan kondisi fundamental ekonomi tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang sedikit di atas ekspektasi di tengah ketidakpastian global sepanjang tahun 2018 dengan pertumbuhannya yang tercatat tertinggi sejak tahun 2014 sebesar 5,17% yoy. 

Di tengah ketidakpastian ekonomi sepanjang tahun kemarin, konsumsi tumbuh sangat kuat sehingga sektor perdagangan besar dan ritel ikut tumbuh dengan signifikan sebesar 5,58% yoy. 

"Tingginya pertumbuhan konsumsi masyarakat merupakan penolong utama dari kondisi fundamental Indonesia dan diprediksikan akan tetap menguat sepanjang tahun 2019," ungkap Febrio, Kamis (21/02/2019).

Dia melanjutkan kuatnya kondisi fundamental juga terlihat pada inflasi yang rendah dan stabil. 

Memasuki awal tahun 2019, inflasi umum mengalami penurunan secara tahunan maupun bulanan menjadi sebesar 2,82% yoy dan 0,32% mtm dari 3,13% dan 0,62% di bulan Desember 2018. 

Harga-harga bahan makanan yang lebih terkendali serta terjadinya penurunan harga BBM nonsubsidi menjadi dua pendorong utama deflasi di bulan Januari 2019. 

Meskipun turun cukup signifikan, nilai inflasi tahunan masih tergolong aman mengingat tetap berada pada koridor inflasi acuan BI yakni 2,5%-4,5%. 

Sementara, tren musiman kenaikan permintaan untuk beberapa kebutuhan rumah tangga seperti pembayaran sewa rumah hingga upah pekerja rumah tangga di awal tahun tergambarkan pada peningkatan inflasi inti menjadi 0,30% (mtm) dari 0,17% pada bulan sebelumnya.  

"Meski demikian, inflasi inti tahunan tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan dari bulan sebelumnya yakni menjadi 3,06% (yoy) dari sebelumnya 3,07%," ujarnya.

Tren apresiasi Rupiah, yang sempat di bawah Rp14.000 di awal Februari, didorong oleh derasnya arus modal masuk sejak Oktober 2018. 

Menyambut FOMC meeting di bulan Maret nanti, dia menuturkan ketika probabilita kenaikan Fed funds rate masih sekitar nol persen, kondisi pasar aset emerging economies jauh lebih tenang dibandingkan tahun lalu. 

Kondisi dan prospek perekonomian AS membuat sentimen pasar terhadap aset berisiko menjadi relatif lebih positif.

Febrio juga melihat tekanan eksternal yang sebelumnya mengancam pasar perlahan-lahan mereda seiring dengan pelemahan global yang sudah hampir pasti terjadi dalam dua tahun ke depan.

"Ini akan berkontribusi terhadap pelemahan harga komoditas. Tren ini menciptakan tantangan dari neraca perdagangan dalam beberapa waktu mendatang," papar Febrio. 

Walaupun arus modal masuk untuk portofolio telah meningkat tajam sejak Oktober 2018, dia menegaskan tren pelemahan neraca perdagangan belum berkurang. 

Neraca perdagangan kembali defisit di Januari 2019, bahkan sedikit melebar ke US$1,3 miliar dari US$1,1 miliar di bulan sebelumnya. 

Pelemahan neraca pergadangan Januari terutama disebabkan oleh terus melemahnya harga batu bara, yang di disebabkan oleh potensi perlemahan pertumbuhan ekonomi dunia, khususnya China. 

Dengan potensi melemahnya perekonomian dunia dalam beberapa tahun ke depan, Febrio menilai target defisit transaksi berjalan sebesar -2,5% dari PDB akan cukup menantang.

Kendati demikian, LPEM UI memandang BI masih perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada Rapat Dewan Gubernur bulan ini. 

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menuturkan BI akan kembali mempertahankan suku bunga kebijakan di level 6% pada RDG bulan ini mempertimbangkan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil sehingga mendukung terkendalinya ekspektasi inflasi.

Stabilitas nilai tukar rupiah juga ditopang oleh ekspektasi stance kebijakan bank sentral AS yang lebih dovish mempertimbangkan tren penurunan beberapa data ekonomi seperti pertumbuhan penjualan ritel dan laju produksi industri yang melambat yang selanjutnya akan membatasi kenaikan inflasi kurang dari 2% (target bank sentral AS). 

Dari perspektif domestik, dia mengungkapkan stance kebijakan moneter BI yang tight bias ditujukan untuk memastikan defisit transaksi berjalan mengecil ke arah -2,5% terhadap PDB pada tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top