Perbankan Diminta Tak Anggap Tekfin Sebagai Ancaman

Pengembangan pembayaran digital di Indonesia dianggap harus dilakukan secara kolaborasi. Karena itu, perusahaan tekfin dan bank tak perlu saling bersaing untuk membuat ekosistem yang kondusif.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  20:00 WIB
Perbankan Diminta Tak Anggap Tekfin Sebagai Ancaman
Ilustrasi solusi teknologi finansial - flickr

Bisnis.com, JAKARTA -- Keberadaan perusahaan rintisan (startup) serta teknologi finansial (tekfin) dianggap tak perlu ditakuti oleh dunia perbankan.

Pernyataan itu disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Go-Pay Aldi Haryopratomo dalam acara MoneyLIVE di Jakarta seperti tertulis dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (22/2/2019). Menurutnya, tekfin dan dunia perbankan justru harus berkolaborasi untuk mengembangkan ekosistem pembayaran digital.

"Go-Pay akan tetap berfokus pada misinya yaitu untuk menjadi jembatan bagi masyarakat menuju layanan finansial. Namun, kami juga ingin agar 2019  menjadi tahunnya kolaborasi, membangun ekosistem bersama-sama, dan memikirkan bagaimana kita bisa benar-benar membantu rekan-rekan kami, termasuk rekan usaha, bank, dan institusi, untuk tumbuh dan menerapkan nilai-nilai yang kita ciptakan bersama,” kata Aldi.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi pembayaran digital atau uang elektronik sepanjang 2018 mencapai Rp47,19 triliun. Angka itu meningkat empat kali lipat dibandingkan nilai transaksi pada 2017 yang sebesar Rp12,37 triliun.

Mengacu pada hasil survei yang dipublikasikan Morgan Stanley, Kamis (21/2), para responden menilai tekfin unggul dibanding bank dalam menyediakan fitur pembayaran digital. Alasannya, tekfin dianggap memiliki sejumlah kelebihan.

Pertama, uang elektronik yang diterbitkan oleh tekfin dianggap lebih praktis. Kedua, layanan isi ulang saldo secara mandiri melalui jaringan mitra pengemudi dinilai lebih praktis oleh para responden survei daripada melalui bank.

"Hanya kurang dari 50% masyarakat Indonesia yang memiliki akses terhadap layanan keuangan, dibandingkan dengan China dan India yang mencapai 80%. Kami melihat bahwa financial technology (fintech) hadir bukan sebagai kompetisi untuk bank, tapi sebaliknya, untuk menjembatani bank dengan masyarakat yang belum tersentuh layanan keuangan ini," tuturnya.

Aldi menyebut keberadaan Go-Pay dan layanan serupa dari tekfin lain bisa membantu bank dalam berbagai salah. Salah satunya, bank disebut bisa terbantu untuk memetakan calon penerima kredit.

Dia menjelaskan selama ini banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tidak mencatat sejarah transaksi bisnisnya dengan baik. Dengan kehadiran pembayaran digital, pencatatan itu bisa terstruktur dan dimanfaatkan bank.

"Dengan memanfaatkan data transaksi fintech seperti Go-Pay, perbankan bisa lebih mudah menilai kelayakan UMKM untuk menerima kredit dan UMKM bisa lebih mudah mengakses kredit," tambah Aldi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, fintech

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup