Perbaikan Defisit Transaksi Berjalan Masih Sulit

Kendati berpotensi membaik pada kuartal I/2019, defisit transaksi berjalan masih akan dihantui oleh kinerja ekspor hingga kenaikan harga minyak.
Hadijah Alaydrus | 03 April 2019 22:50 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati berpotensi membaik pada kuartal I/2019, defisit transaksi berjalan masih akan dihantui oleh kinerja ekspor hingga kenaikan harga minyak.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan pola musiman memang akan membantu perbaikan defisit transaksi berjalan pada kuartal pertama tahun ini. Namun, pelebaran bisa kembali terjadi pada kuartal kedua dipicu oleh faktor pembagian dividen.

"Transfer laba ke luar negerinya tinggi. Untuk kuartal pertama bisa di bawah 3 persen, tapi full year sepertinya masih mepet 3 persen," ujar Bhima, Rabu (03/04/2019).

Beberapa faktor yang akan menganjal perbaikan defisit transaksi berjalan pada tahun ini a.l. kinerja ekspor lesu, pemasukan dari wisatawan mancanegara sulit diandalkan serta penyesuaian harga minyak.

Kenaikan harga minyak yang mendekati level US$70 per barel ini berpotensi memperberat neraca migas. Pasalnya, Bhima memperkirakan impor migas masih mungkin meningkat.

"Apalagi alokasi solar di atas target APBN," ungkap Bhima.

Dengan perbaikan defisit transaksi berjalan yang seret, Bhima memperkirakan bank sentral masih akan menahan penurunan suku bunga acuannya ke depan. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan, defisit transaksi berjalan

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup